Popular Post

Archive for September 2016

Hati-hati Media Online Syiah! Berikut Daftar Situsnya

By : Rian Pratama Amdin

Syiah makin gencar mengembangkan pengaruhnya di Indonesia, apalagi ditunjang dengan masuknya "imam" mereka ke parlemen ( menjadi anggota DPR ). Gerak mereka sepertinya makin leluasa. Media propaganda yang mereka maksimalkan, salah satunya melalui media internet.

Modus lainnya, Syiah membuat situs tandingan yang namanya hampir sama dengan media Islam yang sudah ada. Seperti yang bisa dilihat dalam gambar di bawah ini :

Beberapa media mainstream Islam merilis daftar situs yang menjadi corong propaganda syiah. Berikut daftar lengkapnya ( UPDATE sampai tulisan ini tayang)

Islamtimes.org (Syiah 100%)
indonesian.irib.ir (Syiah 100%)
*salafynews.com* (Syiah 100%)
arrahmahnews.com (Syiah 100%)
islam-institute.com (Syiah 100%)
liputanislam.com (Syiah 100%)
muslimoderat.com  JIL & JIN Bersatu Hantam Islam
www1.mahdi-news.com (Syiah 100%)
republika.co.id (Pro Syiah)
suriahterkini.blogspot.com (Syiah 100%)
islamtoleran.com --> JIL & JIN Bersatu Hantam Islam
beritadunia.net  (Syiah 100%)
satuislam.org (Syiah 100%)
kabarislamia.com (Syiah 100%)
voa-islamnews.com (Syiah 100%)
islam14.com/indonesia (Syiah 100%)
www.moslemforall.com (Pro Syiah)
mirajnews.com/id (Syiah 100%)
metroislam.com (Syiah, JIL & JIN Bersatu Hantam Islam)
syiahindonesia.net (Syiah 100%)
bbc.com (Pro Syiah)
albalad.co (Syiah 100%)
buletinmajelispecintarasul.blogspot.com (Syiah 100%)

Jadi, sahabat semua yang berusaha menjaga kemurnian aqidah, hati-hatilah. Syiah bukan Islam, tapi musuh yang hendak menghancurkan Islam.

Wanita adalah guru

By : Rian Pratama Amdin

Wanita adalah guru bagi para remaja putri. Hal tersebut sebagaian di antara tugas wanita yang mulia. Karena ia tidak terpisahkan dari tugas utamanya yang dibebankan oleh Allah, yaitu sebagai ibu dan pendidik bagi anak-anaknya. Jika ia sebagia ibu yang berhasil, maka ia juga akan menjadi seorang guru yang sukses.

Agar wanita bisa sukses dalam perannya ini, maka ia harus memiliki beberapa sifat berikut ini:
1. Tidak meremehkan hak Allah (kewajiban beribadah kepada-Nya)
“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab[33]: 70-71)
2. Baik bacaan Al-Qur’annya dan berusaha menghafalnya. Seorang guru harus menguasai hukum-hukum Al-Qur’an, tajwidnya, tilawah dan hafalannya, sehingga ia bisa menempatkan obat (solusi) di tempat yang sakit (sumber masalah).
3. Hafal beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa membantunya dalam urusan agamanya .
“Hendaklah kalian berpegang pada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. ” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)
4. Tidak menyia-nyiakan hak suaminya.
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, dia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki. ” (H.R. Ibnu Hibban, Ahmad, dan Abu Nu’aim)
5. Tidak menyia-nyiakan hak anak-anaknya.
“Sesungguhnya Allah akan mempertanyakan setiap pemimpin atas apa yang diamanahkan kepadanya, apakah ia menjaganya atau menyia-nyiakannya.” (H.R. Ibnu Hibban dan Ibnu Adi)
6. Menghiasai diri dengan akhlak mulia .
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. ” (H.R. Muslim)
7. Menghiasai diri dengan kesabaran.
“Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu. ” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 45)
8. Memiliki kemampuan dalam mengatur waktunya.
9. Mendapatkan izin suaminya untuk keluar mengajar.
10. Tidak ikhtilat (camur baur) dengan pria.
11. Patuh dengan busana muslimah.
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [1232] ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.
Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (Q.S. Al-Ahzab[33]: 59)
12. Ikhlas dalam bekerja.
“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu perbuatan kecuali yang diikhlaskan semata untuk mencari ridha-Nya. ” (H.R. An-Nasa’i)
13. Bertakwa kepada Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa kepada-Nya. ” (Q.S. Ali-Imran[3]: 102)
“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Q.S. Az-Zumar[39]: 9)
15. Bersifat santun dan lembut.
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap urusan. ” (H.R. Bukhari dan Muslim)
“Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. ” (Q.S. An-Nahl[16]: 93)
17. Berpengetahuan dan berwawasan, serta selalu membaca dan mengetahui masalah-masalah aktual.
18. Berkepribadian tangguh.

Wallahua’lam.

_Ukhty HD _ (Melawan kantuk. Jogja, 16/12/2015)

Tag : , ,

Bahtera Cinta

By : Rian Pratama Amdin

Konon pada suatu zaman, adalah sebuah negeri bagaikan Bahtera Cinta (atau Kapal Cinta), yang berlayar di atas samudera-samudera yang berombak ganas dan berangin sangat kencang. Namun Bahtera Cinta itu terus berlayar dengan tenang, menembus dengan tenang dan santun dari berbagai terpaan ombak dan angin yang nan hebat. Bahtera Cinta itu pun terus berlayar mengelilingi berbagai samudera, dan terus menebarkan cintanya ke seluruh semesta.

Bahtera Cinta itu terus berlayar, meskipun para penumpang kapal itu tidak semuanya nyaman. Terkadang ada di antara penumpang itu yang berselisih pendapat hingga sangat runcing, tapi cinta yang tersebar di dalam Bahtera Cinta itu menyelesaikan semuanya. Semua perselisihan bagaikan sirna dengan siraman cinta di dalam kapal itu.

Di dalam Bahtera Cinta itu terkadang juga terjadi pergolakan hebat dari para penumpangnya. Demikian hebatnya, sampai terkadang Sang Nahkoda dari Bahtera Cinta itu pun ingin direbut kepemimpinannya. Sang Nahkoda pun dicaci maki, dicela, dan dihina dengan hebat. Namun cinta yang mendalam dari Sang Nahkoda pun membuat semua pergumulan tadi ibarat tiada bermakna. Semua celaan, hinaa, dan makian dari para pemberontak tadi, redup bagaikan api yang terus mengecil, karena cinta Sang Nahkoda tadi.

Bahtera Cinta itu pun terus berlayar, mengarungi berbagai samudera baru, dan terkadang berlabuh di beberapa pelabuhan. Cinta dari Sang Nahkoda pun terus tersebar ke seluruh semesta, ke seluruh samudera yang dilaluinya, ke seluruh pelabuhan yang disandarinya. Kisah Bahtera Cinta ini tiada akan pernah pupus, dan akan terus menebarkan dan menceritakan kebaikan ke seluruh manusia. Walau pun Sang Nahkoda itu sudah tiada, menghadap Sang Kuasa.

Bahtera Cinta itu adalah Islam, yang tidak akan pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, kecuali dalam Islam. Cinta kasih yang senantiasa ditebar dan ditaburkan, tiada akan pernah ada kecuali dalam Islam. Sang Nahkoda itu adalah Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yang terus memberikan cinta tulusnya ke seluruh umat manusia tanpa terkecuali, hingga akhir hayat beliau.

Adalah Muhammad Sang Utusan Allah, yang mendirikan Negeri Islam dengan cinta. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, sebuah negeri baru yang berdiri tanpa peperangan, kecuali Negeri Islam di Madinah Munawwarah 1437 tahun silam. Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yang dapat menyatukan dan menjadikan mereka saudara: dua suku Yahudi di Madinah (Aus dan Khazraj) yang bersatu dalam keimanan kepada Allah 'azza wa jalla.

Adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sang pemimpin Negara Islam yang berkali-kali diperangi, direncanakan dibunuh, dipecah belah, dan berbagai makar lainnya. Namun itu semua tidak membuat Sang Nahkoda membenci mereka, bahkan mencintai mereka. Para pemakar dalam peperangan itu pun kalah semuanya di tangan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan menjadi tawanan. Tapi tidak ada satu pun dari tawanan itu yang ditahan dalam penjara atau dihukum mati. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, ada negara dan pemimpin negara seperti ini.

Berbagai makar dari kaum munafik dalam tubuh kaum muslimin di Negara Islam itu pun tidak membuat beliau shallallahu 'alaihi wasallam membenci mereka. Kaum munafik ini adalah kaum Quraisy musyrik penyembah berhala multituhan, tapi menunjukkan keislaman dalam lahiriyah mereka. Kaum munafik ini adalah musuh terbesar dalam sepanjang sejarah manusia. Namun pada Negara Islam ini, tidak pernah ada perkataan sedikitpun dari Panglimanya (yakni Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) untuk mencela mereka, apalagi perintah membunuh para pengkhianat ini. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, ada negara dan pemimpin negara seperti ini.

Pada sejarah Eropa era Kristen, sepanjang sejarah mereka, selalu terjadi hukuman mati atas berbagai sebab. Bahkan atas sebab-sebab yang masih sifatnya dugaan semata, hukuman mati pun terus bergulir. Sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa pra Islam, selama lebih dari 1.200 tahun, berbagai hukuman mati digulirkan. Kegiatan-kegiatan spionase dari kerajaan-kerajaan Eropa dilakukan untuk mengintip para warga negaranya, demi menjaga hegemoni kerajaan. Siapa yang dirasa mengancam kelangsungan kerajaan, maka imbalannya adalah: siksa, penjara, atau hukuman mati.

Islam pun datang mengubah semuanya, dengan Panglimanya shallallahu 'alaihi wasallam yang penuh cinta kasih, menebar dan menabur kedamaian. Bahkan kaum Yahudi yang minoritas di Negara Islam waktu itu, demikian lancangnya mencela Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan ucapan salam yang hina langsung dimuka beliau shallallahu 'alaihi wasallam: "Assaamu 'alaikum" kata para Yahudi minoritas itu, atau "Kematian atasmu". Rasulullah tidak mencacinya, tidak menghukumnya, apalagi sampai menghukum mati - tidak pernah beliau shallallahu 'alaihi wasallam lakukan. Semua Yahudi dan kaum munafik di Negara Islam, aman dan selamat dari berbagai keburukan, dibawah tebaran dan taburan cinta kasih Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Dan Bahtera Cinta itu pun terus berlayar ...
Sang Nahkoda itu pun telah tiada ...
Namun cinta kasih terus ditebar dan ditabur ...
Menyebarkan kedamaian dan kebenaran ke seluruh semesta ...

✍ Abu Al-Faatih

Lemah Lembutlah Pada Gelas-gelas Kaca...!

By : Rian Pratama Amdin

Dalam sebuah perjalanan. Ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama seorang budak yang biasa dipanggil dengan nama Anjasah. Suara Anjasah yang demikian besar membuat unta yang sedang dituntunnya menjingkrak-jingkrak. Setiap kali Anjasah berkata dengan suara tinggi, maka unta itu bergerak tanpa kontrol karena terkejut. Hal itu membuat para wanita yang sedang berada diatas punggung unta hampir-hampir saja terjatuh.

Melihat yang demikian itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam segera menegur Anjasah, kemudian memintanya untuk melirihkan suaranya. "Perlakukanlah 'gelas-gelas kaca' itu dengan lemah lembut, hai Anjasah!!" kata beliau mengingatkan. Dan maksud dari gelas-gelas kaca itu adalah para wanita.

Ungkapan yang begitu indah. Mengagumkan. Sungguh bahasa yang beliau pilih untuk mengilustrasikan karakteristik kaum wanita adalah sangat tepat. Mereka memiliki kelembutan rasa. Selembut belaian angin sepoi-sepoi, bahkan lebih lembut lagi. Mereka mempunyai kehalusan jiwa, sehalus sutera China, bahkan lebih. Hal inilah yang mendorong Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam begitu nyaman menyebut kaum wanita dengan istilah ‘gelas-gelas kaca’.

Gelas-gelas kaca itu bening. Sebening embun, bahkan lebih bening. Gelas-gelas kaca itu bersih. Sebersih semburat surya di waktu dhuha, bahkan lebih bersih lagi. Selalu menyenangkan hati orang yang menatapnya. Karena memang naluriah manusia cenderung mencintai keindahan. Dan gelas-gelas kaca itu punya tabiat dasar bersih serta indah. Berarti ini sangat tepat.

Wanita memiliki kelembutan jiwa, kepekaan hati serta sensitivitas rasa. Namun tabiatnya yang indah suatu saat bisa saja ternoda manakala ia keluar ataupun 'dipaksa' keluar dari rel fitrahnya. Demikian halnya dengan gelas-gelas kaca itu, ia bisa saja pecah ketika terjatuh atau dijatuhkan. Ia juga bisa kotor karena debu-debu nakal yang menempel padanya. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam begitu hati-hati dalam menyebutnya, apalagi bermuamalah dengannya.

Rifqon bil Qowārir…!!!

Kalimat itu adalah seruan bagi kaum laki-laki untuk bersikap santun dan lemah lembut pada wanita. Ia adalah peringatan bagi orang tua agar betul-betul mendidik dan membimbing putrinya agar tidak rusak ataupun retak. Rusak akhlaknya, retak kemuliaannya.

Ia adalah teguran bagi orang tua maupun para suami yang telah melalaikannya, tidak mendidiknya dengan pendidikan yang utama, tidak menjaganya dengan baik dan tidak mengajarinya akhlak atau pekerti yang luhur.

Ia merupakan larangan bagi siapapun yang hendak menjerumuskannya ke dalam gelombang fitnah, dan juga peringatan keras atas orang-orang yang hendak menanggalkan 'izzah-nya.[]

Posted By www.albalagh.ga
Media online Buletin Al Balagh Wahdah Konawe

Tag : ,

Blockquote

Unordered List

- Copyright © Buletin Al Balagh - Powered by BULETIN AL BALAGH - Designed by Abu Ashfa al Kabaini -