Popular Post

Archive for 2014

Jadi Muslim Jangan Mau Ikut-ikutan

By : Rian Pratama Amdin



Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengeluarkan manusia dari kesyirikan kepada tauhid. Sebagaimana telah mengutus nabi dan rasul sebelum beliau. Dalam firman-Nya (yang artinya):
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu...", (QS. an-Nahl: 36).
Ayat ini menunjukkan kepada kita, bahwa tujuan dari diutusnya setiap rasul oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah untuk mengeluarkan manusia dari kesyirikan kepada tauhid, dari penyembahan kepada makhluk kepada penyembahan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan inilah yang menyamakan atau merupakan titik temu antara ajaran agama yang di bawa oleh setiap nabi, dari sejak nabi yang pertama di utus oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala hingga nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun kemudian ummat-ummat dari setiap nabi meninggalkan atau menyimpang dari ajaran yang di bawah oleh nabi-nabi mereka. Mereka mengganti tauhid yang diajarkan oleh nabi-nabi yang diutus dengan kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan mereka menjadikan nabi-nabi tersebut sebagai tuhan-tuhan selain dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani (yang artinya)
“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah"...“ (QS. at-Taubah: 30)
Ini adalah merupakan pembeda antara umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kaum Nasrani ataupun Yahudi. Meskipun kita sama-sama meyakini Allah sebagai tuhan kita, meyakini adanya hari berbangkit yang disana kita akan bertanggung jawab kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun ada perbedaan yang sangat mendasar antara kita dengan mereka, yaitu dari sisi bahwa mereka memiliki sembahan yang lain selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Mereka beriman kepada Allah, tapi keimanan mereka kepada Allah bercampur dengan kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
“Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” (QS. Yusuf: 107).
Mereka meyakini adanya Allah. Mereka meyakini Allah sebagai pencipta satu-satunya. Meyakini bahwa tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menciptakan, memelihara, dan menguasai alam semesta dan segala isinya, tapi mereka memiliki sembahan yang lain selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka keimanan mereka kepada Allah adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan. Keimanan mereka kepada Allah adalah keimanan yang batil, keimanan yang rusak karena keimanan tersebut bukanlah keimanan yang murni mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan itulah perbedaan yang sangat mendasar antara kita kaum muslimin dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.

Karena itu jelaslah kebatilah orang yang mengatakan bahwasanya semua pengikut agama langit ini sama. Bahwasanya agama Islam, Yahudi dan Nasrani ini adalah sama. Ada diantara mereka yang berdalilkan atau berdalih dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya)
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ” (QS. al-Baqarah: 62)
Ayat ini kadang dijadikan sebagai dalil oleh orang-orang yang ingin menyamakan antara Islam dan Yahudi dan Nasrani karena dikatakan bahwasanya orang yang beriman, orang Yahudi dan orang Nasrani, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir dan beramal shaleh, maka mereka akan mendapatkan balasan yang baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pembaca yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala, ayat-ayat Al-Qur'an saling menjelaskan satu sama lainnya. Bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada Allah, bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada hari akhir. Ini yang menjadi pertanyaan. Apakah keimanan mereka kepada Allah sama dengan keimanan kita kepada Allah sehingga kita mengatakan Islam sama dengan Nasrani, sama dengan Yahudi? Ternyata tidak! Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam ayat yang lain (yang artinya),
“Maka jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar)...” (QS. al-Baqarah: 137)
Apakah keimanan mereka sama dengan keimanan kita kepada Allah? Jawabannya tidak! Keimanan kita kepada Allah disebutkan dalam surah Al-Ikhlas “Katakanlah Allah itu ahad (Tunggal), Allah tempat bergantung dan bersandar segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu apapun yang sama dengannya”

Keimanan mereka kepada Allah adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan.  Sementara keimanan kita kepada Allah adalah keimanan dalam bentuk tauhid yang hanya menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai satu-satunya sembahan, sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap bentuk ibadah yang kita lakukan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut mereka sebagai orang-orang yang kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya)
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam....", (QS. al-Maidah: 72).
Dalam ayat selanjutnya Allah mengatakan (yang artinya):
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga...." (QS. al-Maidah: 73)
Mereka mengimani Allah namun juga meyakini juga adanya tuhan selain Allah. Itu adalah kesyirikan dan kekufuran kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka tidak ada bedanya antara orang-orang kafir Quraisy dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Karena mereka orang-orang yang musyrik kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Islam, agama yang paling tinggi
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memperjuangkan Islam, untuk mendakwahkan Islam, untuk menegakkan Islam, sehingga Islam menjadi agama yang paling tinggi. Allah berfirman (yang artinya):
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. ” (QS. as-Shaff: 9)
Maka semua agama yang ada, ketika nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diutus adalah agama-agama yang batil. Adalah agama-agama yang telah menyimpang. Dan Islam dibawa oleh nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengalahkan semua agama-agama tersebut.

Oleh karena itu, setiap orang-orang beriman, yang telah menyatakan diri sebagai muslim berpegang teguh dengan agama mereka, hendaklah mempelajari Al-Qur'anul Karim, mempelajari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beramal dengannya untuk menampakkan perbedaan antara keimanan dan kekufuran. Kemudian berdakwah, berjuang menegakkan kebenaran, untuk menampakkan kebenaran hingga kemudian  bisa mengalahkan kebatilan. Tauhid bisa mengalahkan kesyirikan, sehingga agama Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadi agama tertinggi.

Ujian Toleransi
Pada bulan ini, bulan Desember menurut penanggalan miladiyah. Beberapa hari kedepan ada hari raya orang Nasrani dan ada tahun baru orang Nasrani. Sebagai salah satu wujud kebencian kita terhadap kekufuran adalah sama sekali tidak ikut merayakan hari-hari raya mereka. Sebagian diantara kita ada yang memberikan selamat kepada mereka ketika mereka merayakan hari natal, ini merupakan kebatilan, ini merupakan kemunkaran karena sama saja kita mentolerir kesyirikan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hari Natal adalah hari yang mereka yakini sebagai kelahiran nabi Isa, yang mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Memberi ucapan selamat kepada mereka sama saja kita mengatakan “Selamat atas kelahiran tuhan anda, selamat atas kesyirikan anda”.

Andaikan ada orang yang minum minuman keras lantas kita ucapkan, “selamat mabuk”, kira-kira berdosa atau tidak? Ada orang selesai berzina, kita ucapkan “selamat ya anda sudah berzina”. Mengucapkan keselamatan kepada kemaksiatan adalah merupakan dosa yang besar. Apa lagi mengucapkan selamat dalam kesyirikan. Maka sama sekali tidak ada ucapan selamat kepada segala bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam bentuk apapun dan siapapun dia. Meskipun ia seorang atasan kita, seorang komandan kita. Kita mengatakan mohon maaf, ini sudah wilayah agama, “untukmu agamamu, untukku agamaku.”

Begitupun perayaan tahun baru yang biasanya kaum muslimin tumpah ruah ikut merayakannya. Tahun miladiyah bukan tahun kita, tahunnya kaum muslimin adalah tahun Hijriah. Sedangkan pergantian tahun Hijriah Rasulullah tidak menganjurkan kita untuk merayakannya dan sahabat Rasulullah pun tidak pernah merayakannya, apalagi merayakan tahun barunya orang kafir. Maka salah satu bentuk kebencian kita terhadap kekufuran adalah tidak ikut serta dalam segala  ciri khas orang-orang di luar Islam.  Sesungguhnya perayaan tahun baru miladiyah merupakan bagian dari agama Nasrani. Karena tahun tersebut dikaitkan dengan natalnya nabi yang kemudian mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah bersabda: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika seandainya mereka memasuki lubang dhabb (sejenis biawak) niscaya kalian akan ikuti pula”. Kami (para sahabat) bertanya “Wahai Rasulullah, (mereka itu) Yahudi dan Nasrani?”. Rasulullah menjawab “Siapa lagi?” (HR. Bukhari-Muslim).

Merayakan tahun baru mereka adalah bentuk ikut-ikutan kita dengan mereka. Sementara rasul telah bersabda:
“Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut” (HR. Ahmad dan Abu Dawud.)
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga jati diri kita sebagai seorang muslim untuk tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang diluar Islam yang merupakan ciri khas dari kekafiran mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wallahu a’lam.[]    

(Buletin al-Balagh edisi 7, Tahun IX, Safar 1435 H)
- See more at: http://www.albalaghmedia.com/2013/12/jadi-muslim-jangan-mau-ikut-ikutan.html#sthash.RIENHMdn.dpuf

Tag : ,

HAJI, BERJALAN MENUJU ALLAH

By : Rian Pratama Amdin



Oleh: H. Rahmat Abd. Rahman, Lc., MA
(Ketua Dewan Syariah DPP WI, Ketua MIUMI Makassar, Wakil Ketua MUI Kota Makassar)
Musim haji telah tiba, kesibukan tampak di mana-mana buat persiapan pelaksanaannya. Calon jemaah haji mempersiapkan diri secara fisik dan mental buat mendapatkan balasan tertinggi dari ibadahnya, pemerintah dua negara, Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi bersiap siaga buat memberikan pelayanan yang terbaik kepada calon jemaah haji, serta tidak ketinggalan perusahaan-perusahaan swasta pengelola program perjalanan ibadah haji juga berbenah sebaik mungkin agar jemaah dapat merasakan pelayanan maksimalnya. Segala persiapan ini dianggap lumrah, karena haji adalah ibadah yang menyempurnakan keislaman seorang muslim setelah ia melaksanakan 4 rukun Islam lainnya.
Sejarah Haji
Ibadah haji disyariatkan oleh Allah swt. sejak zaman Nabi Ibrahim as. Pada masa itu, pondasi bangunan Ka’bah baru selesai dikerjakan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as., maka umat manusia dari seluruh dunia diseru buat mengunjunginya dan menunaikan ibadah haji di sekelilingnya. Menurut Ibnu Abbas ra. (Tafsir Ibnu Katsir, 1999), pada saat Nabi Ibrahim as. diperintah oleh Allah swt. untuk menyampaikan kepada umat manusia agar berhaji ke Ka’bah, Nabi Ibrahim as. bertanya kepada Allah swt.: “Bagaimana aku menyampaikan kepada seluruh umat manusia, sedangkan suaraku tidak mampu menjangkau mereka ?”. Allah swt. menjawab: “Berserulah dan Aku yang akan menyampaikan kepada mereka seluruhnya”. Seruan untuk berhaji akhirnya diketahui oleh seluruh umat manusia, hingga dengan berbondong-bondong mereka mendatangi Ka’bah buat menunaikannya, ada yang berjalan kaki dan ada yang berkendaraan.
   
Nabi Ibrahim as. meminta kepada Allah swt. agar dituntun melaksanakan ibadah haji, maka Allah swt. menurunkan malaikat Jibril as. buat memenuhi permintaan Nabi Ibrahim as. ini. Menurut Ibnu al-Dhiya’ (Tarikh Makkah, 2004), padang Arafah/Arafat diberi nama demikian karena pada saat Jibril as. telah sampai di padang itu bersama Nabi Ibrahim as., malaikat Jibril as. bertanya kepada Nabi Ibrahim as.: “a’arafta manasikaka” (apakah anda sudah mengetahui pelaksanaan haji) ?. Ibrahim as. menjawab: “’araftu” (aku sudah mengetahuinya). Perintah menunaikan haji dan tuntunan pelaksanaannya yang turun dari Allah swt., selayaknya memberi kesadaran bagi setiap calon jemaah haji akan kemuliaan ibadah yang hendak ia laksanakan.
   
Nabi Muhammad saw. juga mendapatkan perintah dari Allah swt. untuk melaksanakan ibadah haji, bahkan menjadikannya sebagai rukun penyempurna agama Islam yang dibawanya. Nabi Muhammad saw. melaksanakan ibadah haji ini pada tahun 10 Hijriyah dan disebut dengan nama Hajjah al-Wada’ (Haji Perpisahan), karena menjadi kesempatan terakhir Rasulullah saw. berkumpul bersama seluruh sahabat ra. Sebanyak kurang lebih 12 ribu orang ikut berhaji bersama Rasulullah saw. dan menyaksikan langsung tata cara pelaksanaannya. Rasulullah saw. menyelisihi pelaksanaan haji kaum musyrikin pada saat itu dengan wukuf di padang Arafah dan meninggalkan padang Muzdalifah sebelum terbit matahari setelah salat subuh, sedangkan kaum musyrikin tidak wukuf di padang Arafah karena menganggapnya bukan wilayah tanah haram (suci), juga meninggalkan padang Muzdalifah pada saat matahari sudah meninggi pada tanggal 10 Zulhijjah.
   
Sejarah ini diharapkan mampu memberi wawasan kepada calon jemaah haji agar berhaji sesuai tuntunan Rasulullah saw. dan menghindari praktik-praktik kesyirikan yang kadang terjadi pada jemaah haji, seperti mengusap-usap dinding Ka’bah atau tiang-tiang Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan kain, atau memotong tali tenda-tenda di padang Arafah, kesemuanya dengan maksud mengambil berkah dari benda-benda tersebut.
Tujuan Haji
Perjalanan haji selain untuk menjalankan kewajiban agama, juga dimaksudkan untuk tujuan lain, yaitu:
1.    Mewujudkan sikap bertauhid kepada Allah swt.
Pelaksanaan ibadah haji dari awal hingga selesainya adalah ditujukan dalam rangka mengesakan Allah swt. Dimulai dengan niat ihram dan lantunan talbiyah, yaitu: Labbayka Allahumma Labbayka, Labbayka La Syarika Laka Labbayka, Inna al-Hamda wa al-Ni’mata Laka wa al-Mulka La Syarika Laka (Aku memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu karena tiada sekutu bagi-Mu, segala bentuk pujian, karunia kenikmatan dan kekuasaan sesungguhnya hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) hingga tawaf di sekeliling Ka’bah dan sai di antara bukit Safa dan Marwa. Suatu penegasan akan Maha Esa dan Kuasa Allah swt. sehingga pantas untuk disembah satu-satunya dan wajib dijauhkan dari segala bentuk perbuatan syirik.
Melempar jumrah dan tawaf wada’ adalah rangkaian terakhir dari pelaksanaan ibadah haji, kedua ibadah ini juga bagian dari mengesakan Allah swt. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Aisyah ra. disebutkan sabda Rasulullah saw. yang artinya:
“Sesungguhnya tawaf mengelilingi Ka’bah, sai antara bukit Safa dan Marwa, serta melempar jumrah hanyalah semata-mata untuk berzikir kepada Allah”.
Sikap bertauhid kepada Allah swt. dalam pelaksanaan ibadah haji diharapkan memberi kesadaran yang utuh kepada setiap jemaah haji akan kewajiban utamanya sebagai manusia, yaitu beribadah kepada Allah swt. dan menghindari perbuatan syirik. Kesadaran ini semoga dapat terjaga dalam kehidupan kesehariannya selepas pelaksanaan haji di tanah suci.
2.    Mempererat ukhuwah Islam
Jutaan muslim yang datang dari berbagai negara di 5 benua berkumpul bersama buat menunaikan ibadah haji nan mulia ini. Pemandangan yang menakjubkan pada saat melihat seluruh jemaah haji dengan berbagai bahasa keseharian, warna kulit yang berbeda, mulai dari berwarna hitam, kuning, coklat, merah, putih hingga albino (bule), dan berbagai perbedaan lainnya. Semua berkumpul buat menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa. Keharmonisan gerak semakin menakjubkan pada saat seluruh jemaah bersama-sama melaksanakan salat berjamaah di Masjidil Haram, ruku’ bersama, sujud bersama dengan satu komando, imam Masjidil Haram. Ucapan takbir menyatukan seluruh gerak, hingga akhirnya berujung pada salam dan seluruh jemaah merasakan kebahagiaan yang sama. Menakjubkan dan luar biasa !
Pemandangan ini juga terjadi pada saat wukuf di padang Arafah, seluruh jemaah haji berada pada satu tempat, bersama berdoa kepada Allah Yang Maha Melihat dan Mendengar, tak jarang airmata jatuh bercucuran mengingat dosa dan kelalaian setiap hari, serta berharap semoga Allah Yang Maha Pemurah berkenan mengampunkan semua itu. Wukuf berakhir bersama terbenamnya matahari, secercah kebahagiaan membawa seluruh jemaah haji kembali ke padang Muzdalifah, sekali lagi bersama-sama ibarat berada dalam satu ritme gerakan yang menghasilkan pemandangan sungguh menakjubkan.
Kebersamaan ini seyogyanya menimbulkan kesadaran akan tingginya nilai persatuan dan ukhuwah Islam. Segala bentuk perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam hanya dapat disatukan oleh ketundukan ibadah kepada Allah swt. Ketundukan kepada Allah swt. mengandung nilai keikhlasan dan konsistensi berjalan di atas kebenaran. Kebenaran di dalam agama Islam bersifat pasti, yaitu yang dasar dan pemaknaannya bersumber dari Allah swt.
3.    Membangun kepribadian Islam
Perjalanan haji membutuhkan kesabaran dalam 3 hal. Pertama, kesabaran dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt. Rentetan ibadah telah menanti seorang jemaah haji sejak menginjakkan kaki di tanah suci Makkah atau Madinah, seperti salat berjamaah, tadarrus Alquran, zikir, doa dan lain sebagainya. Rangkaian ibadah-ibadah ini sekalipun bukan bagian dari pelaksanaan haji, namun selayaknya dijaga melihat kesempatan berkunjung ke tanah suci bisa tidak berulang kembali.

Kedua, kesabaran dalam menghindari maksiat. Kebiasaan bergosip atau mencela orang lain, hingga berbohong atau bermata jelajatan yang terasa enak untuk dilakukan, sekuat mungkin untuk dihindari karena hanya akan mengurangi kelezatan munajat kepada Allah swt. Ketiga, kesabaran dalam bergaul dengan sesama jemaah haji. Pengendalian emosi pada saat tawaf, salat di Masjidil Haram, antri buat mandi atau buang air di Arafah, Muzdalifah dan Mina, hingga melempar jumrah pada hari-hari Tasyriq, sangat dibutuhkan oleh setiap jemaah haji.
Seorang jemaah haji yang mampu melewati semua ujian dalam perjalanan hajinya dengan memiliki kesabaran ini, akan merasakan pribadinya terbangun menjadi muslim yang utuh. Ia tinggal menyempurnakannya dengan menjaga konsistensi sikap ini sekembalinya ke tanah air setelah berhaji.
Haji Mabrur
Rasulullah saw. menjanjikan balasan surga bagi setiap jemaah haji yang meraih predikat haji mabrur. Menurut Syaikh ‘Atiyah Salim (Syarah Bulugh al-Maram), haji mabrur adalah haji yang diterima, karena pelaksanaannya sempurna dengan memenuhi segala rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya serta bersih dari segala bentuk maksiat kepada Allah swt. Indikasinya dapat dilihat selepas ibadah haji ini ditunaikan, yaitu kondisi kesalehan seorang yang telah berhaji lebih baik dari sebelum ia menunaikannya.
   
Kesalehan seorang jemaah haji pada saat ia menunaikan haji dibutuhkan oleh orang-orang yang bersama dengannya di tanah suci, sedangkan kesalehannya selepas menunaikan haji dan kembali ke tanah air dibutuhkan oleh masyarakat yang lebih banyak. Tindakan-tindakan tercela di masyarakat seperti korupsi, berbohong dan tidak amanah semestinya dapat dikurangi dengan menjaga konsistensi haji mabrur.
Akhirnya, selamat jalan para calon jemaah haji, semoga selamat tiba di tanah suci dan mendapatkan kemudahan dari Allah swt. dalam meraih predikat haji mabrur.

Tag : ,

Ada Apa Dengan Dzulhijjah ?

By : Rian Pratama Amdin


Segala puji bagi Allah I, salam dan salawat kepada Rasulullah r serta shahabat-shahabat beliau.

Dalil tentang keutamaan 10 hari pertama di bulan dzuhijjah

1. Firman Allah I

] وَالْفَجْر ` وَلَيَالٍ عَشْر[  الفجر :1-2
“Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)
Sebahagian besar ahli tafsir menafsirkan bahwa makna “Malam yang sepuluh”  adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan sumpah Allah I atas waktu tersebut menunjuk-kan keagungan dan keutamaannnya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:535 dan Zaadul Maad 1:56)
2. Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah r bersabda : “Tidak ada hari-hari yang didalamnya amalan yang paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah” Para shahabat bertanya “Wahai Rasulullah, apakah amal-amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah dari pada
jihad fii sabilillah ?” Nabi r bersabda : ”Ya, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari)
3. Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad  -rahimahullah- dari Ibnu Umar dari Rasulullah  r bersabda : ”Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan amal shalih yang lebih dicinrtai oleh Allah padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbayaklah pada hari itu tahlil ( لا إله إلا الله), Takbir (الله أكبر) dan Tahmid ( الحمد لله)”
4. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qurath t beliau berkata, Rasulullah r bersabda : ”Hari yang paling afdhal / utama (dalam setahun) adalah hari raya qurban (10 Dzuulhijjah)”  (HSR. Ibnu Hibban)
5. Jika seseorang bertanya :”Yang manakah yang lebih afdhal sepuluh terakhir di bulan Ramadhan ataukah sepuluh awal bulan Dzulhijjah ?” Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata “Jika dilihat pada waktu malamnya,   maka   sepuluh   terakhir
 bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama” (Lihat Zaadul Ma’ad 1:57)

Amalan Yang Disyariatkan Pada Hari-hari Tersebut

1.             Melaksanakan ibadah haji dan umrah. Kedua ibadah inilah yang paling utama dilaksanakan pada hari-hari tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits, Rasulullah r bersabda : ”Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus dosa-dosa) diantara keduanya, sedang haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali Syurga” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Berpuasa pada hari-hari tersebut atau beberapa hari diantaranya (sesuai kesanggupan) terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Tidak diragukan lagi bahwa ibadah puasa merupakan salah satu amalan yang paling afdhal dan salah satu amalan yang dilebihkan oleh Allah I dari amalan-amalan shalih lainnya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasululllah r bersabda :
“Tidaklah seseorang berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari Neraka (karena puasanya) sejauh 70 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dan Muslim) Khusus tentang puasa Arafah, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah  r bersabda” Berpusa di hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) menghapuskan dosa tahun lalu dan dosa tahun yang akan datang”
2.             Memperbanyak takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut. Sebagaimana firman Allah I :
]…وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ...  [الحج :28
“…Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan..” (QS. Al Hajj: 28)
Tafsiran dari “Hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah . Oleh kerena itu para ulama kita menyunnahkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Dan penafsiran itu dikuatkan pula dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’ : “…maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut” (HSR. Ath Thabrany)
      Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah y ketika keduanya keluar kepasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah mereka berdua berakbir, maka orang-orangpun ikut berakbir sebaimana takbir mereka berdua (R. Bukhari) Dan Ishaq bin Rahowaih –rahimahullah- meriwayatkan dari para ahli fiqh dari kalangan tabi’in bahwa mereka –rahimahumullah- mengucapkan pada hari-hari tersebut :

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ َاللهُ أَكْبَرْ وَِللهِ الْحَمْدُ

Disunnahkan mengangkat suara saat bertakbir, baik ketika dipasar, rumah, jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya, Allah I berfirman :
] …وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ... [  البقرة:185
“…Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (dengan berakbir kepadaNya) atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu…” (QS. Al Baqarah :185).
     Namun perlu diperhatikan bahwa takbir tidak boleh dilakukan secara berjama’ah yaitu  berkumpul-kumpul lalu berakbir secara serempak, karena hal tersebut tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, namun hendaknya setiap orang bertakbir, bertahmid dan bertasbih dengan apa saja yang mudah  baginya secara sendri-sedri. Dan cara seperti ini berlaku pula pada seluruh jenis dzikir dan do’a.
4. Bertaubat dan menjauhi kemaksiatan serta seluruh dosa agar mendapatkan maghfirah dan rahmat dari Allah I. Hal ini penting dilakukan karena kemaksiatan merupakan penyebab ditolaknya dan jauhnya seseorang dari rahmat Allah I, sebaliknya ketaatan merupakan sebab kedekatan dan kecintaan Allah I kepada seseorang. Rasulullah r bersabda : ”Sungguh Allah itu cemburu dan kecemburuan Allah apabila seseorang melakukan apa yang Allah haramkan atasnya” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah-ibadah sunnat seperti shalat, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan yang semacamnya. Karena amalan tersebut akan dilipat gandakan pahalanya jika dilakukan pada hari-hari tersebut, hingga ibadah yang kecilpun jika dilakukan pada hari-hari tersebut akan  lebih  utama  dan  lebih
dicintai oleh Allah I dari pada ibadah yang besar yang dilakukan pada waktu yang lain. Contohnya, jihad, yang merupakan seutama-utama amal, namun akan dikalahkan oleh amal-amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulah Dzulhijjah, kecuali orang yang mendapat syahid.
6. Disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir di setiap waktu, baik itu siang maupun malam, terutama ketika seleesai shalat berjama’ah di masjid.
Takbir ini dimulai sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, sedang bagi jama’ah haji maka dimulai sejak Zhuhur hari penyembelihan (10 Dzulhijjah) Adapun akhir dari waktu bertakbir adalah pada hari terakhir dari hari-hari Tasyrik (13 Dzulhijjah)
7. Memotong hewan qurban (Udhiyah) bagi yang mampu pada hari raya qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Hal ini merupakan sunnah bapak kita Ibrahim u  ketika Allah I mengganti anak beliau dengan seekor sembelihan yang besar. Dalam hadits yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi r beraqurban dengan dua komba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk, Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir
      Bagi orang yang berniat untuk berqurban hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sampai  dia  berqurban,  diriwayatkan
 dari Umu Salamah, Rasulullah r bersabda: “Jika kalian telah melihat awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk menuyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya” Diriwayat lain disebutkan:”Maka janganlah dia (memotong) rambut dan kuku-kukunya sehingga dia berqurban”. Kemungkinan larangan tersebut untuk menyerupai orang yang menggiring (membawa) qurban sembelihan saat melakukan ibadah haji, sebagaimana firman Allah I :
]...وَلاَ تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ...[   البقرة:196
“…Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebaelum qurban sampai di termpat penyembelihannya…” (QS. Al Baqarah :196).
Namun demikian tidak mengapa bagi orang yang akan berqurban untuk mencuci atau menggosok rambutnya meskipun terjatuh sehelai atau beberapa helai dari rambutnya.
8. Melaksanakan shalat ‘Ied berjama’ah sekaligus mendengarkan khutbah dan mengabil manfaat darinya, yaitu sebagai hari kesyukuran dan untuk mengamalkan kebaikan. Karenanya janganlah seseorang menjadikan hari ‘Ied untuk berbuat kejahatan dan kesombongan. Serta jangan pula menjadikannya
sebagai kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah I dengan mendengarkan nyaian-nyanyian, alat-alat yang melalaikan(seperti alat-alat musik) minuman keras dan yang semacamnya. Karena perbuatan-perbuatan seperti itu  bisa menjadi penyebab terhapusnya amal-amal shalih yang telah dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan tersebut .
    Dari seluruh yang telah dipaparkan dan dijelaskan diatas maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim dan muslimat untuk memanfaatkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini dengan penuh ketaatan kepada Allah  I memperbanyak dzikir dan syukur kepadaNya, melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi seluruh larangan serta memanfaatkan musim-musim ini untuk menyambut segala pemberian Allah I yang denganya kita meraih keridhaan-Nya.
     Semoga Allah I senantiasa menujuki kita kepada jalan yang lurus dan memberikan taufiq agar kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan kesempatan emas seperi ini dengan baik, Amin yaa Rabbal ‘Alamin

-Muh. Yusran Anshar, Lc-


Maraji’ : Risalah Fadhlu Ayyam Al’Asyr Min Dzilhijjah, Asy Syekh Abdulllah  bin Abdirrahman Al Jibrin


Blockquote

Unordered List

- Copyright © Buletin Al Balagh - Powered by BULETIN AL BALAGH - Designed by Abu Ashfa al Kabaini -