Archive for 2014
Jadi Muslim Jangan Mau Ikut-ikutan
By : Rian Pratama Amdin
Allah Subhanahu
wa Ta'ala mengutus Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
untuk mengeluarkan manusia dari kesyirikan kepada tauhid. Sebagaimana telah
mengutus nabi dan rasul sebelum beliau. Dalam firman-Nya (yang artinya):
“Dan
sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu...", (QS. an-Nahl:
36).
Ayat ini
menunjukkan kepada kita, bahwa tujuan dari diutusnya setiap rasul oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala adalah untuk mengeluarkan manusia dari kesyirikan kepada tauhid,
dari penyembahan kepada makhluk kepada penyembahan hanya kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Dan inilah yang menyamakan atau merupakan titik temu antara
ajaran agama yang di bawa oleh setiap nabi, dari sejak nabi yang pertama di
utus oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala hingga nabi kita Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam. Namun kemudian ummat-ummat dari setiap nabi meninggalkan
atau menyimpang dari ajaran yang di bawah oleh nabi-nabi mereka. Mereka
mengganti tauhid yang diajarkan oleh nabi-nabi yang diutus dengan kesyirikan
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan mereka menjadikan nabi-nabi
tersebut sebagai tuhan-tuhan selain dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang orang-orang Yahudi dan
orang-orang Nasrani (yang artinya)
“Orang-orang
Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani
berkata: "Al Masih itu putera Allah"...“ (QS. at-Taubah: 30)
Ini adalah
merupakan pembeda antara umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
dengan kaum Nasrani ataupun Yahudi. Meskipun kita sama-sama meyakini Allah
sebagai tuhan kita, meyakini adanya hari berbangkit yang disana kita akan
bertanggung jawab kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun ada perbedaan
yang sangat mendasar antara kita dengan mereka, yaitu dari sisi bahwa mereka
memiliki sembahan yang lain selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Mereka beriman kepada Allah, tapi keimanan mereka kepada Allah bercampur dengan kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
Mereka beriman kepada Allah, tapi keimanan mereka kepada Allah bercampur dengan kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
“Dan
tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus
dalam kemusyrikan.” (QS. Yusuf: 107).
Mereka
meyakini adanya Allah. Mereka meyakini Allah sebagai pencipta satu-satunya.
Meyakini bahwa tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menciptakan, memelihara,
dan menguasai alam semesta dan segala isinya, tapi mereka memiliki sembahan
yang lain selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka keimanan mereka kepada
Allah adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan. Keimanan mereka kepada
Allah adalah keimanan yang batil, keimanan yang rusak karena keimanan tersebut
bukanlah keimanan yang murni mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
itulah perbedaan yang sangat mendasar antara kita kaum muslimin dengan
orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.
Karena itu jelaslah kebatilah orang yang mengatakan bahwasanya semua pengikut agama langit ini sama. Bahwasanya agama Islam, Yahudi dan Nasrani ini adalah sama. Ada diantara mereka yang berdalilkan atau berdalih dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya)
Karena itu jelaslah kebatilah orang yang mengatakan bahwasanya semua pengikut agama langit ini sama. Bahwasanya agama Islam, Yahudi dan Nasrani ini adalah sama. Ada diantara mereka yang berdalilkan atau berdalih dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya)
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang
Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari
kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka,
tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ”
(QS. al-Baqarah: 62)
Ayat ini
kadang dijadikan sebagai dalil oleh orang-orang yang ingin menyamakan antara
Islam dan Yahudi dan Nasrani karena dikatakan bahwasanya orang yang beriman,
orang Yahudi dan orang Nasrani, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir
dan beramal shaleh, maka mereka akan mendapatkan balasan yang baik di sisi
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pembaca yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala, ayat-ayat Al-Qur'an saling menjelaskan satu sama lainnya. Bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada Allah, bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada hari akhir. Ini yang menjadi pertanyaan. Apakah keimanan mereka kepada Allah sama dengan keimanan kita kepada Allah sehingga kita mengatakan Islam sama dengan Nasrani, sama dengan Yahudi? Ternyata tidak! Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam ayat yang lain (yang artinya),
Pembaca yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala, ayat-ayat Al-Qur'an saling menjelaskan satu sama lainnya. Bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada Allah, bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada hari akhir. Ini yang menjadi pertanyaan. Apakah keimanan mereka kepada Allah sama dengan keimanan kita kepada Allah sehingga kita mengatakan Islam sama dengan Nasrani, sama dengan Yahudi? Ternyata tidak! Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam ayat yang lain (yang artinya),
“Maka jika
mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan
petunjuk (ke jalan yang benar)...” (QS. al-Baqarah: 137)
Apakah
keimanan mereka sama dengan keimanan kita kepada Allah? Jawabannya tidak!
Keimanan kita kepada Allah disebutkan dalam surah Al-Ikhlas “Katakanlah Allah
itu ahad (Tunggal), Allah tempat bergantung dan bersandar segala sesuatu, yang
tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu apapun yang sama
dengannya”
Keimanan mereka kepada Allah adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan. Sementara keimanan kita kepada Allah adalah keimanan dalam bentuk tauhid yang hanya menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai satu-satunya sembahan, sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap bentuk ibadah yang kita lakukan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut mereka sebagai orang-orang yang kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya)
Keimanan mereka kepada Allah adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan. Sementara keimanan kita kepada Allah adalah keimanan dalam bentuk tauhid yang hanya menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai satu-satunya sembahan, sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap bentuk ibadah yang kita lakukan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut mereka sebagai orang-orang yang kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya)
“Sesungguhnya
telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al
Masih putera Maryam....", (QS. al-Maidah: 72).
Dalam ayat
selanjutnya Allah mengatakan (yang artinya):
“Sesungguhnya
kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari
yang tiga...." (QS. al-Maidah: 73)
Mereka
mengimani Allah namun juga meyakini juga adanya tuhan selain Allah. Itu adalah
kesyirikan dan kekufuran kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka tidak
ada bedanya antara orang-orang kafir Quraisy dengan orang-orang Yahudi dan
orang-orang Nasrani. Karena mereka orang-orang yang musyrik kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala.
Islam, agama yang paling tinggi
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memperjuangkan Islam, untuk mendakwahkan Islam, untuk menegakkan Islam, sehingga Islam menjadi agama yang paling tinggi. Allah berfirman (yang artinya):
Islam, agama yang paling tinggi
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memperjuangkan Islam, untuk mendakwahkan Islam, untuk menegakkan Islam, sehingga Islam menjadi agama yang paling tinggi. Allah berfirman (yang artinya):
“Dialah yang
mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia
memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. ”
(QS. as-Shaff: 9)
Maka semua
agama yang ada, ketika nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
diutus adalah agama-agama yang batil. Adalah agama-agama yang telah menyimpang.
Dan Islam dibawa oleh nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk
mengalahkan semua agama-agama tersebut.
Oleh karena itu, setiap orang-orang beriman, yang telah menyatakan diri sebagai muslim berpegang teguh dengan agama mereka, hendaklah mempelajari Al-Qur'anul Karim, mempelajari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beramal dengannya untuk menampakkan perbedaan antara keimanan dan kekufuran. Kemudian berdakwah, berjuang menegakkan kebenaran, untuk menampakkan kebenaran hingga kemudian bisa mengalahkan kebatilan. Tauhid bisa mengalahkan kesyirikan, sehingga agama Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadi agama tertinggi.
Ujian Toleransi
Pada bulan ini, bulan Desember menurut penanggalan miladiyah. Beberapa hari kedepan ada hari raya orang Nasrani dan ada tahun baru orang Nasrani. Sebagai salah satu wujud kebencian kita terhadap kekufuran adalah sama sekali tidak ikut merayakan hari-hari raya mereka. Sebagian diantara kita ada yang memberikan selamat kepada mereka ketika mereka merayakan hari natal, ini merupakan kebatilan, ini merupakan kemunkaran karena sama saja kita mentolerir kesyirikan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hari Natal adalah hari yang mereka yakini sebagai kelahiran nabi Isa, yang mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Memberi ucapan selamat kepada mereka sama saja kita mengatakan “Selamat atas kelahiran tuhan anda, selamat atas kesyirikan anda”.
Andaikan ada orang yang minum minuman keras lantas kita ucapkan, “selamat mabuk”, kira-kira berdosa atau tidak? Ada orang selesai berzina, kita ucapkan “selamat ya anda sudah berzina”. Mengucapkan keselamatan kepada kemaksiatan adalah merupakan dosa yang besar. Apa lagi mengucapkan selamat dalam kesyirikan. Maka sama sekali tidak ada ucapan selamat kepada segala bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam bentuk apapun dan siapapun dia. Meskipun ia seorang atasan kita, seorang komandan kita. Kita mengatakan mohon maaf, ini sudah wilayah agama, “untukmu agamamu, untukku agamaku.”
Begitupun perayaan tahun baru yang biasanya kaum muslimin tumpah ruah ikut merayakannya. Tahun miladiyah bukan tahun kita, tahunnya kaum muslimin adalah tahun Hijriah. Sedangkan pergantian tahun Hijriah Rasulullah tidak menganjurkan kita untuk merayakannya dan sahabat Rasulullah pun tidak pernah merayakannya, apalagi merayakan tahun barunya orang kafir. Maka salah satu bentuk kebencian kita terhadap kekufuran adalah tidak ikut serta dalam segala ciri khas orang-orang di luar Islam. Sesungguhnya perayaan tahun baru miladiyah merupakan bagian dari agama Nasrani. Karena tahun tersebut dikaitkan dengan natalnya nabi yang kemudian mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah bersabda: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika seandainya mereka memasuki lubang dhabb (sejenis biawak) niscaya kalian akan ikuti pula”. Kami (para sahabat) bertanya “Wahai Rasulullah, (mereka itu) Yahudi dan Nasrani?”. Rasulullah menjawab “Siapa lagi?” (HR. Bukhari-Muslim).
Merayakan tahun baru mereka adalah bentuk ikut-ikutan kita dengan mereka. Sementara rasul telah bersabda:
Oleh karena itu, setiap orang-orang beriman, yang telah menyatakan diri sebagai muslim berpegang teguh dengan agama mereka, hendaklah mempelajari Al-Qur'anul Karim, mempelajari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beramal dengannya untuk menampakkan perbedaan antara keimanan dan kekufuran. Kemudian berdakwah, berjuang menegakkan kebenaran, untuk menampakkan kebenaran hingga kemudian bisa mengalahkan kebatilan. Tauhid bisa mengalahkan kesyirikan, sehingga agama Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadi agama tertinggi.
Ujian Toleransi
Pada bulan ini, bulan Desember menurut penanggalan miladiyah. Beberapa hari kedepan ada hari raya orang Nasrani dan ada tahun baru orang Nasrani. Sebagai salah satu wujud kebencian kita terhadap kekufuran adalah sama sekali tidak ikut merayakan hari-hari raya mereka. Sebagian diantara kita ada yang memberikan selamat kepada mereka ketika mereka merayakan hari natal, ini merupakan kebatilan, ini merupakan kemunkaran karena sama saja kita mentolerir kesyirikan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hari Natal adalah hari yang mereka yakini sebagai kelahiran nabi Isa, yang mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Memberi ucapan selamat kepada mereka sama saja kita mengatakan “Selamat atas kelahiran tuhan anda, selamat atas kesyirikan anda”.
Andaikan ada orang yang minum minuman keras lantas kita ucapkan, “selamat mabuk”, kira-kira berdosa atau tidak? Ada orang selesai berzina, kita ucapkan “selamat ya anda sudah berzina”. Mengucapkan keselamatan kepada kemaksiatan adalah merupakan dosa yang besar. Apa lagi mengucapkan selamat dalam kesyirikan. Maka sama sekali tidak ada ucapan selamat kepada segala bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam bentuk apapun dan siapapun dia. Meskipun ia seorang atasan kita, seorang komandan kita. Kita mengatakan mohon maaf, ini sudah wilayah agama, “untukmu agamamu, untukku agamaku.”
Begitupun perayaan tahun baru yang biasanya kaum muslimin tumpah ruah ikut merayakannya. Tahun miladiyah bukan tahun kita, tahunnya kaum muslimin adalah tahun Hijriah. Sedangkan pergantian tahun Hijriah Rasulullah tidak menganjurkan kita untuk merayakannya dan sahabat Rasulullah pun tidak pernah merayakannya, apalagi merayakan tahun barunya orang kafir. Maka salah satu bentuk kebencian kita terhadap kekufuran adalah tidak ikut serta dalam segala ciri khas orang-orang di luar Islam. Sesungguhnya perayaan tahun baru miladiyah merupakan bagian dari agama Nasrani. Karena tahun tersebut dikaitkan dengan natalnya nabi yang kemudian mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah bersabda: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika seandainya mereka memasuki lubang dhabb (sejenis biawak) niscaya kalian akan ikuti pula”. Kami (para sahabat) bertanya “Wahai Rasulullah, (mereka itu) Yahudi dan Nasrani?”. Rasulullah menjawab “Siapa lagi?” (HR. Bukhari-Muslim).
Merayakan tahun baru mereka adalah bentuk ikut-ikutan kita dengan mereka. Sementara rasul telah bersabda:
“Barangsiapa
bertasyabbuh (menyerupai) suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum
tersebut” (HR. Ahmad dan Abu Dawud.)
Mudah-mudahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga
jati diri kita sebagai seorang muslim untuk tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan
orang-orang diluar Islam yang merupakan ciri khas dari kekafiran mereka kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wallahu a’lam.[]
(Buletin al-Balagh edisi 7, Tahun IX, Safar 1435 H)
(Buletin al-Balagh edisi 7, Tahun IX, Safar 1435 H)
- See more
at:
http://www.albalaghmedia.com/2013/12/jadi-muslim-jangan-mau-ikut-ikutan.html#sthash.RIENHMdn.dpuf
Tag :
004-1435 H,
HAJI, BERJALAN MENUJU ALLAH
By : Rian Pratama Amdin
Oleh: H. Rahmat Abd. Rahman, Lc., MA
(Ketua Dewan Syariah DPP WI, Ketua MIUMI Makassar,
Wakil Ketua MUI Kota Makassar)
Musim haji
telah tiba, kesibukan tampak di mana-mana buat persiapan pelaksanaannya. Calon
jemaah haji mempersiapkan diri secara fisik dan mental buat mendapatkan balasan
tertinggi dari ibadahnya, pemerintah dua negara, Republik Indonesia dan
Kerajaan Arab Saudi bersiap siaga buat memberikan pelayanan yang terbaik kepada
calon jemaah haji, serta tidak ketinggalan perusahaan-perusahaan swasta
pengelola program perjalanan ibadah haji juga berbenah sebaik mungkin agar
jemaah dapat merasakan pelayanan maksimalnya. Segala persiapan ini dianggap
lumrah, karena haji adalah ibadah yang menyempurnakan keislaman seorang muslim
setelah ia melaksanakan 4 rukun Islam lainnya.
Sejarah Haji
Ibadah haji disyariatkan oleh Allah swt. sejak zaman Nabi Ibrahim as. Pada masa itu, pondasi bangunan Ka’bah baru selesai dikerjakan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as., maka umat manusia dari seluruh dunia diseru buat mengunjunginya dan menunaikan ibadah haji di sekelilingnya. Menurut Ibnu Abbas ra. (Tafsir Ibnu Katsir, 1999), pada saat Nabi Ibrahim as. diperintah oleh Allah swt. untuk menyampaikan kepada umat manusia agar berhaji ke Ka’bah, Nabi Ibrahim as. bertanya kepada Allah swt.: “Bagaimana aku menyampaikan kepada seluruh umat manusia, sedangkan suaraku tidak mampu menjangkau mereka ?”. Allah swt. menjawab: “Berserulah dan Aku yang akan menyampaikan kepada mereka seluruhnya”. Seruan untuk berhaji akhirnya diketahui oleh seluruh umat manusia, hingga dengan berbondong-bondong mereka mendatangi Ka’bah buat menunaikannya, ada yang berjalan kaki dan ada yang berkendaraan.
Ibadah haji disyariatkan oleh Allah swt. sejak zaman Nabi Ibrahim as. Pada masa itu, pondasi bangunan Ka’bah baru selesai dikerjakan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as., maka umat manusia dari seluruh dunia diseru buat mengunjunginya dan menunaikan ibadah haji di sekelilingnya. Menurut Ibnu Abbas ra. (Tafsir Ibnu Katsir, 1999), pada saat Nabi Ibrahim as. diperintah oleh Allah swt. untuk menyampaikan kepada umat manusia agar berhaji ke Ka’bah, Nabi Ibrahim as. bertanya kepada Allah swt.: “Bagaimana aku menyampaikan kepada seluruh umat manusia, sedangkan suaraku tidak mampu menjangkau mereka ?”. Allah swt. menjawab: “Berserulah dan Aku yang akan menyampaikan kepada mereka seluruhnya”. Seruan untuk berhaji akhirnya diketahui oleh seluruh umat manusia, hingga dengan berbondong-bondong mereka mendatangi Ka’bah buat menunaikannya, ada yang berjalan kaki dan ada yang berkendaraan.
Nabi Ibrahim
as. meminta kepada Allah swt. agar dituntun melaksanakan ibadah haji, maka
Allah swt. menurunkan malaikat Jibril as. buat memenuhi permintaan Nabi Ibrahim
as. ini. Menurut Ibnu al-Dhiya’ (Tarikh Makkah, 2004), padang Arafah/Arafat
diberi nama demikian karena pada saat Jibril as. telah sampai di padang itu
bersama Nabi Ibrahim as., malaikat Jibril as. bertanya kepada Nabi Ibrahim as.:
“a’arafta manasikaka” (apakah anda sudah mengetahui pelaksanaan haji) ?.
Ibrahim as. menjawab: “’araftu” (aku sudah mengetahuinya). Perintah menunaikan
haji dan tuntunan pelaksanaannya yang turun dari Allah swt., selayaknya memberi
kesadaran bagi setiap calon jemaah haji akan kemuliaan ibadah yang hendak ia
laksanakan.
Nabi
Muhammad saw. juga mendapatkan perintah dari Allah swt. untuk melaksanakan
ibadah haji, bahkan menjadikannya sebagai rukun penyempurna agama Islam yang
dibawanya. Nabi Muhammad saw. melaksanakan ibadah haji ini pada tahun 10
Hijriyah dan disebut dengan nama Hajjah al-Wada’ (Haji Perpisahan), karena
menjadi kesempatan terakhir Rasulullah saw. berkumpul bersama seluruh sahabat
ra. Sebanyak kurang lebih 12 ribu orang ikut berhaji bersama Rasulullah saw.
dan menyaksikan langsung tata cara pelaksanaannya. Rasulullah saw. menyelisihi
pelaksanaan haji kaum musyrikin pada saat itu dengan wukuf di padang Arafah dan
meninggalkan padang Muzdalifah sebelum terbit matahari setelah salat subuh,
sedangkan kaum musyrikin tidak wukuf di padang Arafah karena menganggapnya
bukan wilayah tanah haram (suci), juga meninggalkan padang Muzdalifah pada saat
matahari sudah meninggi pada tanggal 10 Zulhijjah.
Sejarah ini diharapkan mampu memberi wawasan kepada calon jemaah haji agar berhaji sesuai tuntunan Rasulullah saw. dan menghindari praktik-praktik kesyirikan yang kadang terjadi pada jemaah haji, seperti mengusap-usap dinding Ka’bah atau tiang-tiang Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan kain, atau memotong tali tenda-tenda di padang Arafah, kesemuanya dengan maksud mengambil berkah dari benda-benda tersebut.
Sejarah ini diharapkan mampu memberi wawasan kepada calon jemaah haji agar berhaji sesuai tuntunan Rasulullah saw. dan menghindari praktik-praktik kesyirikan yang kadang terjadi pada jemaah haji, seperti mengusap-usap dinding Ka’bah atau tiang-tiang Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan kain, atau memotong tali tenda-tenda di padang Arafah, kesemuanya dengan maksud mengambil berkah dari benda-benda tersebut.
Tujuan Haji
Perjalanan haji selain untuk menjalankan kewajiban agama, juga dimaksudkan untuk tujuan lain, yaitu:
1. Mewujudkan sikap bertauhid kepada Allah swt.
Pelaksanaan ibadah haji dari awal hingga selesainya adalah ditujukan dalam rangka mengesakan Allah swt. Dimulai dengan niat ihram dan lantunan talbiyah, yaitu: Labbayka Allahumma Labbayka, Labbayka La Syarika Laka Labbayka, Inna al-Hamda wa al-Ni’mata Laka wa al-Mulka La Syarika Laka (Aku memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu karena tiada sekutu bagi-Mu, segala bentuk pujian, karunia kenikmatan dan kekuasaan sesungguhnya hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) hingga tawaf di sekeliling Ka’bah dan sai di antara bukit Safa dan Marwa. Suatu penegasan akan Maha Esa dan Kuasa Allah swt. sehingga pantas untuk disembah satu-satunya dan wajib dijauhkan dari segala bentuk perbuatan syirik.
Melempar jumrah dan tawaf wada’ adalah rangkaian terakhir dari pelaksanaan ibadah haji, kedua ibadah ini juga bagian dari mengesakan Allah swt. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Aisyah ra. disebutkan sabda Rasulullah saw. yang artinya:
“Sesungguhnya tawaf mengelilingi Ka’bah, sai antara bukit Safa dan Marwa, serta melempar jumrah hanyalah semata-mata untuk berzikir kepada Allah”.
Perjalanan haji selain untuk menjalankan kewajiban agama, juga dimaksudkan untuk tujuan lain, yaitu:
1. Mewujudkan sikap bertauhid kepada Allah swt.
Pelaksanaan ibadah haji dari awal hingga selesainya adalah ditujukan dalam rangka mengesakan Allah swt. Dimulai dengan niat ihram dan lantunan talbiyah, yaitu: Labbayka Allahumma Labbayka, Labbayka La Syarika Laka Labbayka, Inna al-Hamda wa al-Ni’mata Laka wa al-Mulka La Syarika Laka (Aku memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu karena tiada sekutu bagi-Mu, segala bentuk pujian, karunia kenikmatan dan kekuasaan sesungguhnya hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) hingga tawaf di sekeliling Ka’bah dan sai di antara bukit Safa dan Marwa. Suatu penegasan akan Maha Esa dan Kuasa Allah swt. sehingga pantas untuk disembah satu-satunya dan wajib dijauhkan dari segala bentuk perbuatan syirik.
Melempar jumrah dan tawaf wada’ adalah rangkaian terakhir dari pelaksanaan ibadah haji, kedua ibadah ini juga bagian dari mengesakan Allah swt. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Aisyah ra. disebutkan sabda Rasulullah saw. yang artinya:
“Sesungguhnya tawaf mengelilingi Ka’bah, sai antara bukit Safa dan Marwa, serta melempar jumrah hanyalah semata-mata untuk berzikir kepada Allah”.
Sikap
bertauhid kepada Allah swt. dalam pelaksanaan ibadah haji diharapkan memberi
kesadaran yang utuh kepada setiap jemaah haji akan kewajiban utamanya sebagai
manusia, yaitu beribadah kepada Allah swt. dan menghindari perbuatan syirik.
Kesadaran ini semoga dapat terjaga dalam kehidupan kesehariannya selepas
pelaksanaan haji di tanah suci.
2.
Mempererat ukhuwah Islam
Jutaan muslim yang datang dari berbagai negara di 5 benua berkumpul bersama buat menunaikan ibadah haji nan mulia ini. Pemandangan yang menakjubkan pada saat melihat seluruh jemaah haji dengan berbagai bahasa keseharian, warna kulit yang berbeda, mulai dari berwarna hitam, kuning, coklat, merah, putih hingga albino (bule), dan berbagai perbedaan lainnya. Semua berkumpul buat menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa. Keharmonisan gerak semakin menakjubkan pada saat seluruh jemaah bersama-sama melaksanakan salat berjamaah di Masjidil Haram, ruku’ bersama, sujud bersama dengan satu komando, imam Masjidil Haram. Ucapan takbir menyatukan seluruh gerak, hingga akhirnya berujung pada salam dan seluruh jemaah merasakan kebahagiaan yang sama. Menakjubkan dan luar biasa !
Jutaan muslim yang datang dari berbagai negara di 5 benua berkumpul bersama buat menunaikan ibadah haji nan mulia ini. Pemandangan yang menakjubkan pada saat melihat seluruh jemaah haji dengan berbagai bahasa keseharian, warna kulit yang berbeda, mulai dari berwarna hitam, kuning, coklat, merah, putih hingga albino (bule), dan berbagai perbedaan lainnya. Semua berkumpul buat menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa. Keharmonisan gerak semakin menakjubkan pada saat seluruh jemaah bersama-sama melaksanakan salat berjamaah di Masjidil Haram, ruku’ bersama, sujud bersama dengan satu komando, imam Masjidil Haram. Ucapan takbir menyatukan seluruh gerak, hingga akhirnya berujung pada salam dan seluruh jemaah merasakan kebahagiaan yang sama. Menakjubkan dan luar biasa !
Pemandangan
ini juga terjadi pada saat wukuf di padang Arafah, seluruh jemaah haji berada
pada satu tempat, bersama berdoa kepada Allah Yang Maha Melihat dan Mendengar,
tak jarang airmata jatuh bercucuran mengingat dosa dan kelalaian setiap hari,
serta berharap semoga Allah Yang Maha Pemurah berkenan mengampunkan semua itu.
Wukuf berakhir bersama terbenamnya matahari, secercah kebahagiaan membawa
seluruh jemaah haji kembali ke padang Muzdalifah, sekali lagi bersama-sama
ibarat berada dalam satu ritme gerakan yang menghasilkan pemandangan sungguh
menakjubkan.
Kebersamaan
ini seyogyanya menimbulkan kesadaran akan tingginya nilai persatuan dan ukhuwah
Islam. Segala bentuk perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam hanya dapat
disatukan oleh ketundukan ibadah kepada Allah swt. Ketundukan kepada Allah swt.
mengandung nilai keikhlasan dan konsistensi berjalan di atas kebenaran.
Kebenaran di dalam agama Islam bersifat pasti, yaitu yang dasar dan pemaknaannya
bersumber dari Allah swt.
3.
Membangun kepribadian Islam
Perjalanan haji membutuhkan kesabaran dalam 3 hal. Pertama, kesabaran dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt. Rentetan ibadah telah menanti seorang jemaah haji sejak menginjakkan kaki di tanah suci Makkah atau Madinah, seperti salat berjamaah, tadarrus Alquran, zikir, doa dan lain sebagainya. Rangkaian ibadah-ibadah ini sekalipun bukan bagian dari pelaksanaan haji, namun selayaknya dijaga melihat kesempatan berkunjung ke tanah suci bisa tidak berulang kembali.
Perjalanan haji membutuhkan kesabaran dalam 3 hal. Pertama, kesabaran dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt. Rentetan ibadah telah menanti seorang jemaah haji sejak menginjakkan kaki di tanah suci Makkah atau Madinah, seperti salat berjamaah, tadarrus Alquran, zikir, doa dan lain sebagainya. Rangkaian ibadah-ibadah ini sekalipun bukan bagian dari pelaksanaan haji, namun selayaknya dijaga melihat kesempatan berkunjung ke tanah suci bisa tidak berulang kembali.
Kedua,
kesabaran dalam menghindari maksiat. Kebiasaan bergosip atau mencela orang
lain, hingga berbohong atau bermata jelajatan yang terasa enak untuk dilakukan,
sekuat mungkin untuk dihindari karena hanya akan mengurangi kelezatan munajat
kepada Allah swt. Ketiga, kesabaran dalam bergaul dengan sesama jemaah haji.
Pengendalian emosi pada saat tawaf, salat di Masjidil Haram, antri buat mandi
atau buang air di Arafah, Muzdalifah dan Mina, hingga melempar jumrah pada
hari-hari Tasyriq, sangat dibutuhkan oleh setiap jemaah haji.
Seorang
jemaah haji yang mampu melewati semua ujian dalam perjalanan hajinya dengan
memiliki kesabaran ini, akan merasakan pribadinya terbangun menjadi muslim yang
utuh. Ia tinggal menyempurnakannya dengan menjaga konsistensi sikap ini
sekembalinya ke tanah air setelah berhaji.
Haji Mabrur
Rasulullah saw. menjanjikan balasan surga bagi setiap jemaah haji yang meraih predikat haji mabrur. Menurut Syaikh ‘Atiyah Salim (Syarah Bulugh al-Maram), haji mabrur adalah haji yang diterima, karena pelaksanaannya sempurna dengan memenuhi segala rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya serta bersih dari segala bentuk maksiat kepada Allah swt. Indikasinya dapat dilihat selepas ibadah haji ini ditunaikan, yaitu kondisi kesalehan seorang yang telah berhaji lebih baik dari sebelum ia menunaikannya.
Kesalehan seorang jemaah haji pada saat ia menunaikan haji dibutuhkan oleh orang-orang yang bersama dengannya di tanah suci, sedangkan kesalehannya selepas menunaikan haji dan kembali ke tanah air dibutuhkan oleh masyarakat yang lebih banyak. Tindakan-tindakan tercela di masyarakat seperti korupsi, berbohong dan tidak amanah semestinya dapat dikurangi dengan menjaga konsistensi haji mabrur.
Rasulullah saw. menjanjikan balasan surga bagi setiap jemaah haji yang meraih predikat haji mabrur. Menurut Syaikh ‘Atiyah Salim (Syarah Bulugh al-Maram), haji mabrur adalah haji yang diterima, karena pelaksanaannya sempurna dengan memenuhi segala rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya serta bersih dari segala bentuk maksiat kepada Allah swt. Indikasinya dapat dilihat selepas ibadah haji ini ditunaikan, yaitu kondisi kesalehan seorang yang telah berhaji lebih baik dari sebelum ia menunaikannya.
Kesalehan seorang jemaah haji pada saat ia menunaikan haji dibutuhkan oleh orang-orang yang bersama dengannya di tanah suci, sedangkan kesalehannya selepas menunaikan haji dan kembali ke tanah air dibutuhkan oleh masyarakat yang lebih banyak. Tindakan-tindakan tercela di masyarakat seperti korupsi, berbohong dan tidak amanah semestinya dapat dikurangi dengan menjaga konsistensi haji mabrur.
Akhirnya,
selamat jalan para calon jemaah haji, semoga selamat tiba di tanah suci dan
mendapatkan kemudahan dari Allah swt. dalam meraih predikat haji mabrur.
Sumber : HAJI, BERJALAN MENUJU ALLAH | Wahdah Islamiyah http://wahdah.or.id/haji-berjalan-menuju-allah/#ixzz3E8uxIVA2
Tag :
003-1435 H,
Ada Apa Dengan Dzulhijjah ?
By : Rian Pratama Amdin
Segala puji bagi Allah I, salam dan salawat kepada Rasulullah r serta shahabat-shahabat beliau.
Dalil tentang keutamaan 10 hari pertama di bulan dzuhijjah
1. Firman Allah I
] وَالْفَجْر ` وَلَيَالٍ عَشْر[
الفجر :1-2
“Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)
Sebahagian
besar ahli tafsir menafsirkan bahwa makna “Malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Dan sumpah Allah I atas waktu tersebut
menunjuk-kan keagungan dan keutamaannnya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:535 dan
Zaadul Maad 1:56)
2.
Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah r bersabda : “Tidak ada hari-hari yang
didalamnya amalan yang paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu
sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah” Para shahabat bertanya “Wahai
Rasulullah, apakah amal-amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh
Allah dari pada
jihad
fii sabilillah ?” Nabi r bersabda : ”Ya, kecuali
seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak
kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari)
3.
Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad
-rahimahullah- dari Ibnu Umar dari Rasulullah r bersabda : ”Tidak ada
hari-hari yang lebih agung dan amal shalih yang lebih dicinrtai oleh Allah
padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbayaklah pada
hari itu tahlil ( لا
إله إلا الله),
Takbir (الله
أكبر)
dan Tahmid ( الحمد
لله)”
4.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qurath t beliau berkata, Rasulullah r bersabda : ”Hari yang paling afdhal /
utama (dalam setahun) adalah hari raya qurban (10 Dzuulhijjah)” (HSR. Ibnu Hibban)
5. Jika seseorang bertanya
:”Yang manakah yang lebih afdhal sepuluh terakhir di bulan Ramadhan ataukah
sepuluh awal bulan Dzulhijjah ?” Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata “Jika
dilihat pada waktu malamnya, maka sepuluh
terakhir
bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat
waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama”
(Lihat Zaadul Ma’ad 1:57)
Amalan Yang Disyariatkan Pada Hari-hari Tersebut
1.
Melaksanakan
ibadah haji dan umrah.
Kedua ibadah inilah yang paling utama dilaksanakan pada hari-hari tersebut,
sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits, Rasulullah r bersabda : ”Umrah yang
satu ke umrah yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus dosa-dosa) diantara
keduanya, sedang haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali Syurga” (HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Berpuasa pada hari-hari tersebut atau beberapa hari
diantaranya (sesuai
kesanggupan) terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Tidak diragukan lagi
bahwa ibadah puasa merupakan salah satu amalan yang paling afdhal dan salah
satu amalan yang dilebihkan oleh Allah I dari amalan-amalan shalih
lainnya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasululllah r bersabda :
“Tidaklah seseorang berpuasa
satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari Neraka
(karena puasanya) sejauh 70 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dan Muslim) Khusus
tentang puasa Arafah, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah r
bersabda” Berpusa di hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) menghapuskan dosa tahun lalu
dan dosa tahun yang akan datang”
2.
Memperbanyak
takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut. Sebagaimana firman Allah I :
]…وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ
مَعْلُومَاتٍ ... [الحج :28
“…Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah
ditentukan..” (QS. Al Hajj: 28)
Tafsiran
dari “Hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari pertama bulan
Dzulhijjah . Oleh kerena itu para ulama kita menyunnahkan untuk memperbanyak
dzikir pada hari-hari tersebut. Dan penafsiran itu dikuatkan pula dengan hadits
yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’ : “…maka perbanyaklah tahlil,
takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut” (HSR. Ath Thabrany)
Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu
Hurairah y ketika keduanya keluar kepasar pada
sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah mereka berdua berakbir, maka
orang-orangpun ikut berakbir sebaimana takbir mereka berdua (R. Bukhari) Dan
Ishaq bin Rahowaih –rahimahullah- meriwayatkan dari para ahli fiqh dari
kalangan tabi’in bahwa mereka –rahimahumullah- mengucapkan pada hari-hari
tersebut :
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ َاللهُ أَكْبَرْ وَِللهِ الْحَمْدُ
Disunnahkan
mengangkat suara saat bertakbir, baik ketika dipasar, rumah, jalan, masjid dan
tempat-tempat lainnya, Allah I berfirman :
] …وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا
اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ... [ البقرة:185
“…Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (dengan berakbir
kepadaNya) atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu…” (QS. Al Baqarah :185).
Namun perlu diperhatikan bahwa takbir
tidak boleh dilakukan secara berjama’ah yaitu
berkumpul-kumpul lalu berakbir secara serempak, karena hal tersebut
tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, namun hendaknya setiap orang
bertakbir, bertahmid dan bertasbih dengan apa saja yang mudah baginya secara sendri-sedri. Dan cara seperti
ini berlaku pula pada seluruh jenis dzikir dan do’a.
4. Bertaubat dan menjauhi kemaksiatan serta seluruh dosa agar mendapatkan maghfirah
dan rahmat dari Allah I. Hal ini penting dilakukan
karena kemaksiatan merupakan penyebab ditolaknya dan jauhnya seseorang dari
rahmat Allah I, sebaliknya ketaatan
merupakan sebab kedekatan dan kecintaan Allah I kepada seseorang.
Rasulullah r bersabda : ”Sungguh Allah
itu cemburu dan kecemburuan Allah apabila seseorang melakukan apa yang Allah
haramkan atasnya” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah-ibadah
sunnat seperti shalat, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan
yang semacamnya. Karena amalan tersebut akan dilipat gandakan pahalanya jika
dilakukan pada hari-hari tersebut, hingga ibadah yang kecilpun jika dilakukan
pada hari-hari tersebut akan lebih utama
dan lebih
dicintai
oleh Allah I dari pada ibadah yang
besar yang dilakukan pada waktu yang lain. Contohnya, jihad, yang merupakan
seutama-utama amal, namun akan dikalahkan oleh amal-amal shalih yang dilakukan
pada sepuluh hari pertama bulah Dzulhijjah, kecuali orang yang mendapat syahid.
6. Disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir di setiap waktu, baik itu
siang maupun malam, terutama ketika seleesai shalat berjama’ah di masjid.
Takbir
ini dimulai sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak
melaksanakan ibadah haji, sedang bagi jama’ah haji maka dimulai sejak Zhuhur
hari penyembelihan (10 Dzulhijjah) Adapun akhir dari waktu bertakbir adalah
pada hari terakhir dari hari-hari Tasyrik (13 Dzulhijjah)
7. Memotong hewan qurban (Udhiyah) bagi yang mampu pada hari
raya qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Hal ini
merupakan sunnah bapak kita Ibrahim u ketika Allah I mengganti anak beliau
dengan seekor sembelihan yang besar. Dalam hadits yang di riwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi r beraqurban dengan dua
komba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk, Beliau
menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan
bertakbir
Bagi orang yang berniat untuk berqurban
hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sampai dia
berqurban, diriwayatkan
dari Umu Salamah, Rasulullah r bersabda: “Jika kalian telah melihat
awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk
menuyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya”
Diriwayat lain disebutkan:”Maka janganlah dia (memotong) rambut dan
kuku-kukunya sehingga dia berqurban”. Kemungkinan larangan tersebut untuk
menyerupai orang yang menggiring (membawa) qurban sembelihan saat melakukan
ibadah haji, sebagaimana firman Allah I :
]...وَلاَ تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى
يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ...[
البقرة:196
“…Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebaelum qurban sampai di
termpat penyembelihannya…” (QS. Al Baqarah :196).
Namun
demikian tidak mengapa bagi orang yang akan berqurban untuk mencuci atau
menggosok rambutnya meskipun terjatuh sehelai atau beberapa helai dari
rambutnya.
8. Melaksanakan shalat ‘Ied berjama’ah sekaligus mendengarkan khutbah
dan mengabil manfaat darinya, yaitu sebagai hari kesyukuran dan untuk
mengamalkan kebaikan. Karenanya janganlah seseorang menjadikan hari ‘Ied untuk
berbuat kejahatan dan kesombongan. Serta jangan pula menjadikannya
sebagai
kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah I dengan mendengarkan
nyaian-nyanyian, alat-alat yang melalaikan(seperti alat-alat musik) minuman
keras dan yang semacamnya. Karena perbuatan-perbuatan seperti itu bisa menjadi penyebab terhapusnya amal-amal
shalih yang telah dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan tersebut .
Dari seluruh yang telah dipaparkan dan
dijelaskan diatas maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim dan muslimat untuk
memanfaatkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini dengan penuh ketaatan
kepada Allah I memperbanyak dzikir dan
syukur kepadaNya, melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi seluruh
larangan serta memanfaatkan musim-musim ini untuk menyambut segala pemberian
Allah I yang denganya kita meraih
keridhaan-Nya.
Semoga Allah I senantiasa menujuki kita
kepada jalan yang lurus dan memberikan taufiq agar kita termasuk orang-orang
yang memanfaatkan kesempatan emas seperi ini dengan baik, Amin yaa Rabbal
‘Alamin
-Muh. Yusran Anshar, Lc-
Maraji’
: Risalah Fadhlu Ayyam Al’Asyr Min Dzilhijjah, Asy Syekh Abdulllah bin Abdirrahman Al Jibrin
Tag :
Edisi 002-1435 H,


