Hati-hati Media Online Syiah! Berikut Daftar Situsnya
By : Rian Pratama AmdinSyiah makin gencar mengembangkan pengaruhnya di Indonesia, apalagi ditunjang dengan masuknya "imam" mereka ke parlemen ( menjadi anggota DPR ). Gerak mereka sepertinya makin leluasa. Media propaganda yang mereka maksimalkan, salah satunya melalui media internet.
Modus lainnya, Syiah membuat situs tandingan yang namanya hampir sama dengan media Islam yang sudah ada. Seperti yang bisa dilihat dalam gambar di bawah ini :
Beberapa media mainstream Islam merilis daftar situs yang menjadi corong propaganda syiah. Berikut daftar lengkapnya ( UPDATE sampai tulisan ini tayang)
Islamtimes.org (Syiah 100%)
indonesian.irib.ir (Syiah 100%)
*salafynews.com* (Syiah 100%)
arrahmahnews.com (Syiah 100%)
islam-institute.com (Syiah 100%)
liputanislam.com (Syiah 100%)
muslimoderat.com JIL & JIN Bersatu Hantam Islam
www1.mahdi-news.com (Syiah 100%)
republika.co.id (Pro Syiah)
suriahterkini.blogspot.com (Syiah 100%)
islamtoleran.com --> JIL & JIN Bersatu Hantam Islam
beritadunia.net (Syiah 100%)
satuislam.org (Syiah 100%)
kabarislamia.com (Syiah 100%)
voa-islamnews.com (Syiah 100%)
islam14.com/indonesia (Syiah 100%)
www.moslemforall.com (Pro Syiah)
mirajnews.com/id (Syiah 100%)
metroislam.com (Syiah, JIL & JIN Bersatu Hantam Islam)
syiahindonesia.net (Syiah 100%)
bbc.com (Pro Syiah)
albalad.co (Syiah 100%)
buletinmajelispecintarasul.blogspot.com (Syiah 100%)
Jadi, sahabat semua yang berusaha menjaga kemurnian aqidah, hati-hatilah. Syiah bukan Islam, tapi musuh yang hendak menghancurkan Islam.
Wanita adalah guru
By : Rian Pratama AmdinWanita adalah guru bagi para remaja putri. Hal tersebut sebagaian di antara tugas wanita yang mulia. Karena ia tidak terpisahkan dari tugas utamanya yang dibebankan oleh Allah, yaitu sebagai ibu dan pendidik bagi anak-anaknya. Jika ia sebagia ibu yang berhasil, maka ia juga akan menjadi seorang guru yang sukses.
Agar wanita bisa sukses dalam perannya ini, maka ia harus memiliki beberapa sifat berikut ini:
1. Tidak meremehkan hak Allah (kewajiban beribadah kepada-Nya)
“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab[33]: 70-71)
2. Baik bacaan Al-Qur’annya dan berusaha menghafalnya. Seorang guru harus menguasai hukum-hukum Al-Qur’an, tajwidnya, tilawah dan hafalannya, sehingga ia bisa menempatkan obat (solusi) di tempat yang sakit (sumber masalah).
3. Hafal beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa membantunya dalam urusan agamanya .
“Hendaklah kalian berpegang pada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. ” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)
4. Tidak menyia-nyiakan hak suaminya.
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, dia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki. ” (H.R. Ibnu Hibban, Ahmad, dan Abu Nu’aim)
5. Tidak menyia-nyiakan hak anak-anaknya.
“Sesungguhnya Allah akan mempertanyakan setiap pemimpin atas apa yang diamanahkan kepadanya, apakah ia menjaganya atau menyia-nyiakannya.” (H.R. Ibnu Hibban dan Ibnu Adi)
6. Menghiasai diri dengan akhlak mulia .
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. ” (H.R. Muslim)
7. Menghiasai diri dengan kesabaran.
“Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu. ” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 45)
8. Memiliki kemampuan dalam mengatur waktunya.
9. Mendapatkan izin suaminya untuk keluar mengajar.
10. Tidak ikhtilat (camur baur) dengan pria.
11. Patuh dengan busana muslimah.
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [1232] ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.
Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (Q.S. Al-Ahzab[33]: 59)
12. Ikhlas dalam bekerja.
“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu perbuatan kecuali yang diikhlaskan semata untuk mencari ridha-Nya. ” (H.R. An-Nasa’i)
13. Bertakwa kepada Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa kepada-Nya. ” (Q.S. Ali-Imran[3]: 102)
“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Q.S. Az-Zumar[39]: 9)
15. Bersifat santun dan lembut.
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap urusan. ” (H.R. Bukhari dan Muslim)
“Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. ” (Q.S. An-Nahl[16]: 93)
17. Berpengetahuan dan berwawasan, serta selalu membaca dan mengetahui masalah-masalah aktual.
18. Berkepribadian tangguh.
Wallahua’lam.
_Ukhty HD _ (Melawan kantuk. Jogja, 16/12/2015)
Bahtera Cinta
By : Rian Pratama AmdinKonon pada suatu zaman, adalah sebuah negeri bagaikan Bahtera Cinta (atau Kapal Cinta), yang berlayar di atas samudera-samudera yang berombak ganas dan berangin sangat kencang. Namun Bahtera Cinta itu terus berlayar dengan tenang, menembus dengan tenang dan santun dari berbagai terpaan ombak dan angin yang nan hebat. Bahtera Cinta itu pun terus berlayar mengelilingi berbagai samudera, dan terus menebarkan cintanya ke seluruh semesta.
Bahtera Cinta itu terus berlayar, meskipun para penumpang kapal itu tidak semuanya nyaman. Terkadang ada di antara penumpang itu yang berselisih pendapat hingga sangat runcing, tapi cinta yang tersebar di dalam Bahtera Cinta itu menyelesaikan semuanya. Semua perselisihan bagaikan sirna dengan siraman cinta di dalam kapal itu.
Di dalam Bahtera Cinta itu terkadang juga terjadi pergolakan hebat dari para penumpangnya. Demikian hebatnya, sampai terkadang Sang Nahkoda dari Bahtera Cinta itu pun ingin direbut kepemimpinannya. Sang Nahkoda pun dicaci maki, dicela, dan dihina dengan hebat. Namun cinta yang mendalam dari Sang Nahkoda pun membuat semua pergumulan tadi ibarat tiada bermakna. Semua celaan, hinaa, dan makian dari para pemberontak tadi, redup bagaikan api yang terus mengecil, karena cinta Sang Nahkoda tadi.
Bahtera Cinta itu pun terus berlayar, mengarungi berbagai samudera baru, dan terkadang berlabuh di beberapa pelabuhan. Cinta dari Sang Nahkoda pun terus tersebar ke seluruh semesta, ke seluruh samudera yang dilaluinya, ke seluruh pelabuhan yang disandarinya. Kisah Bahtera Cinta ini tiada akan pernah pupus, dan akan terus menebarkan dan menceritakan kebaikan ke seluruh manusia. Walau pun Sang Nahkoda itu sudah tiada, menghadap Sang Kuasa.
Bahtera Cinta itu adalah Islam, yang tidak akan pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, kecuali dalam Islam. Cinta kasih yang senantiasa ditebar dan ditaburkan, tiada akan pernah ada kecuali dalam Islam. Sang Nahkoda itu adalah Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yang terus memberikan cinta tulusnya ke seluruh umat manusia tanpa terkecuali, hingga akhir hayat beliau.
Adalah Muhammad Sang Utusan Allah, yang mendirikan Negeri Islam dengan cinta. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, sebuah negeri baru yang berdiri tanpa peperangan, kecuali Negeri Islam di Madinah Munawwarah 1437 tahun silam. Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yang dapat menyatukan dan menjadikan mereka saudara: dua suku Yahudi di Madinah (Aus dan Khazraj) yang bersatu dalam keimanan kepada Allah 'azza wa jalla.
Adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sang pemimpin Negara Islam yang berkali-kali diperangi, direncanakan dibunuh, dipecah belah, dan berbagai makar lainnya. Namun itu semua tidak membuat Sang Nahkoda membenci mereka, bahkan mencintai mereka. Para pemakar dalam peperangan itu pun kalah semuanya di tangan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan menjadi tawanan. Tapi tidak ada satu pun dari tawanan itu yang ditahan dalam penjara atau dihukum mati. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, ada negara dan pemimpin negara seperti ini.
Berbagai makar dari kaum munafik dalam tubuh kaum muslimin di Negara Islam itu pun tidak membuat beliau shallallahu 'alaihi wasallam membenci mereka. Kaum munafik ini adalah kaum Quraisy musyrik penyembah berhala multituhan, tapi menunjukkan keislaman dalam lahiriyah mereka. Kaum munafik ini adalah musuh terbesar dalam sepanjang sejarah manusia. Namun pada Negara Islam ini, tidak pernah ada perkataan sedikitpun dari Panglimanya (yakni Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) untuk mencela mereka, apalagi perintah membunuh para pengkhianat ini. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, ada negara dan pemimpin negara seperti ini.
Pada sejarah Eropa era Kristen, sepanjang sejarah mereka, selalu terjadi hukuman mati atas berbagai sebab. Bahkan atas sebab-sebab yang masih sifatnya dugaan semata, hukuman mati pun terus bergulir. Sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa pra Islam, selama lebih dari 1.200 tahun, berbagai hukuman mati digulirkan. Kegiatan-kegiatan spionase dari kerajaan-kerajaan Eropa dilakukan untuk mengintip para warga negaranya, demi menjaga hegemoni kerajaan. Siapa yang dirasa mengancam kelangsungan kerajaan, maka imbalannya adalah: siksa, penjara, atau hukuman mati.
Islam pun datang mengubah semuanya, dengan Panglimanya shallallahu 'alaihi wasallam yang penuh cinta kasih, menebar dan menabur kedamaian. Bahkan kaum Yahudi yang minoritas di Negara Islam waktu itu, demikian lancangnya mencela Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan ucapan salam yang hina langsung dimuka beliau shallallahu 'alaihi wasallam: "Assaamu 'alaikum" kata para Yahudi minoritas itu, atau "Kematian atasmu". Rasulullah tidak mencacinya, tidak menghukumnya, apalagi sampai menghukum mati - tidak pernah beliau shallallahu 'alaihi wasallam lakukan. Semua Yahudi dan kaum munafik di Negara Islam, aman dan selamat dari berbagai keburukan, dibawah tebaran dan taburan cinta kasih Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Dan Bahtera Cinta itu pun terus berlayar ...
Sang Nahkoda itu pun telah tiada ...
Namun cinta kasih terus ditebar dan ditabur ...
Menyebarkan kedamaian dan kebenaran ke seluruh semesta ...
✍ Abu Al-Faatih
Lemah Lembutlah Pada Gelas-gelas Kaca...!
By : Rian Pratama AmdinDalam sebuah perjalanan. Ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama seorang budak yang biasa dipanggil dengan nama Anjasah. Suara Anjasah yang demikian besar membuat unta yang sedang dituntunnya menjingkrak-jingkrak. Setiap kali Anjasah berkata dengan suara tinggi, maka unta itu bergerak tanpa kontrol karena terkejut. Hal itu membuat para wanita yang sedang berada diatas punggung unta hampir-hampir saja terjatuh.
Melihat yang demikian itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam segera menegur Anjasah, kemudian memintanya untuk melirihkan suaranya. "Perlakukanlah 'gelas-gelas kaca' itu dengan lemah lembut, hai Anjasah!!" kata beliau mengingatkan. Dan maksud dari gelas-gelas kaca itu adalah para wanita.
Ungkapan yang begitu indah. Mengagumkan. Sungguh bahasa yang beliau pilih untuk mengilustrasikan karakteristik kaum wanita adalah sangat tepat. Mereka memiliki kelembutan rasa. Selembut belaian angin sepoi-sepoi, bahkan lebih lembut lagi. Mereka mempunyai kehalusan jiwa, sehalus sutera China, bahkan lebih. Hal inilah yang mendorong Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam begitu nyaman menyebut kaum wanita dengan istilah ‘gelas-gelas kaca’.
Gelas-gelas kaca itu bening. Sebening embun, bahkan lebih bening. Gelas-gelas kaca itu bersih. Sebersih semburat surya di waktu dhuha, bahkan lebih bersih lagi. Selalu menyenangkan hati orang yang menatapnya. Karena memang naluriah manusia cenderung mencintai keindahan. Dan gelas-gelas kaca itu punya tabiat dasar bersih serta indah. Berarti ini sangat tepat.
Wanita memiliki kelembutan jiwa, kepekaan hati serta sensitivitas rasa. Namun tabiatnya yang indah suatu saat bisa saja ternoda manakala ia keluar ataupun 'dipaksa' keluar dari rel fitrahnya. Demikian halnya dengan gelas-gelas kaca itu, ia bisa saja pecah ketika terjatuh atau dijatuhkan. Ia juga bisa kotor karena debu-debu nakal yang menempel padanya. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam begitu hati-hati dalam menyebutnya, apalagi bermuamalah dengannya.
Rifqon bil Qowārir…!!!
Kalimat itu adalah seruan bagi kaum laki-laki untuk bersikap santun dan lemah lembut pada wanita. Ia adalah peringatan bagi orang tua agar betul-betul mendidik dan membimbing putrinya agar tidak rusak ataupun retak. Rusak akhlaknya, retak kemuliaannya.
Ia adalah teguran bagi orang tua maupun para suami yang telah melalaikannya, tidak mendidiknya dengan pendidikan yang utama, tidak menjaganya dengan baik dan tidak mengajarinya akhlak atau pekerti yang luhur.
Ia merupakan larangan bagi siapapun yang hendak menjerumuskannya ke dalam gelombang fitnah, dan juga peringatan keras atas orang-orang yang hendak menanggalkan 'izzah-nya.[]
Posted By www.albalagh.ga
Media online Buletin Al Balagh Wahdah Konawe
Jadi Muslim Jangan Mau Ikut-ikutan
By : Rian Pratama AmdinMereka beriman kepada Allah, tapi keimanan mereka kepada Allah bercampur dengan kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
Karena itu jelaslah kebatilah orang yang mengatakan bahwasanya semua pengikut agama langit ini sama. Bahwasanya agama Islam, Yahudi dan Nasrani ini adalah sama. Ada diantara mereka yang berdalilkan atau berdalih dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya)
Pembaca yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala, ayat-ayat Al-Qur'an saling menjelaskan satu sama lainnya. Bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada Allah, bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada hari akhir. Ini yang menjadi pertanyaan. Apakah keimanan mereka kepada Allah sama dengan keimanan kita kepada Allah sehingga kita mengatakan Islam sama dengan Nasrani, sama dengan Yahudi? Ternyata tidak! Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam ayat yang lain (yang artinya),
Keimanan mereka kepada Allah adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan. Sementara keimanan kita kepada Allah adalah keimanan dalam bentuk tauhid yang hanya menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai satu-satunya sembahan, sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap bentuk ibadah yang kita lakukan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut mereka sebagai orang-orang yang kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya)
Islam, agama yang paling tinggi
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memperjuangkan Islam, untuk mendakwahkan Islam, untuk menegakkan Islam, sehingga Islam menjadi agama yang paling tinggi. Allah berfirman (yang artinya):
Oleh karena itu, setiap orang-orang beriman, yang telah menyatakan diri sebagai muslim berpegang teguh dengan agama mereka, hendaklah mempelajari Al-Qur'anul Karim, mempelajari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beramal dengannya untuk menampakkan perbedaan antara keimanan dan kekufuran. Kemudian berdakwah, berjuang menegakkan kebenaran, untuk menampakkan kebenaran hingga kemudian bisa mengalahkan kebatilan. Tauhid bisa mengalahkan kesyirikan, sehingga agama Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadi agama tertinggi.
Ujian Toleransi
Pada bulan ini, bulan Desember menurut penanggalan miladiyah. Beberapa hari kedepan ada hari raya orang Nasrani dan ada tahun baru orang Nasrani. Sebagai salah satu wujud kebencian kita terhadap kekufuran adalah sama sekali tidak ikut merayakan hari-hari raya mereka. Sebagian diantara kita ada yang memberikan selamat kepada mereka ketika mereka merayakan hari natal, ini merupakan kebatilan, ini merupakan kemunkaran karena sama saja kita mentolerir kesyirikan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hari Natal adalah hari yang mereka yakini sebagai kelahiran nabi Isa, yang mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Memberi ucapan selamat kepada mereka sama saja kita mengatakan “Selamat atas kelahiran tuhan anda, selamat atas kesyirikan anda”.
Andaikan ada orang yang minum minuman keras lantas kita ucapkan, “selamat mabuk”, kira-kira berdosa atau tidak? Ada orang selesai berzina, kita ucapkan “selamat ya anda sudah berzina”. Mengucapkan keselamatan kepada kemaksiatan adalah merupakan dosa yang besar. Apa lagi mengucapkan selamat dalam kesyirikan. Maka sama sekali tidak ada ucapan selamat kepada segala bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam bentuk apapun dan siapapun dia. Meskipun ia seorang atasan kita, seorang komandan kita. Kita mengatakan mohon maaf, ini sudah wilayah agama, “untukmu agamamu, untukku agamaku.”
Begitupun perayaan tahun baru yang biasanya kaum muslimin tumpah ruah ikut merayakannya. Tahun miladiyah bukan tahun kita, tahunnya kaum muslimin adalah tahun Hijriah. Sedangkan pergantian tahun Hijriah Rasulullah tidak menganjurkan kita untuk merayakannya dan sahabat Rasulullah pun tidak pernah merayakannya, apalagi merayakan tahun barunya orang kafir. Maka salah satu bentuk kebencian kita terhadap kekufuran adalah tidak ikut serta dalam segala ciri khas orang-orang di luar Islam. Sesungguhnya perayaan tahun baru miladiyah merupakan bagian dari agama Nasrani. Karena tahun tersebut dikaitkan dengan natalnya nabi yang kemudian mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah bersabda: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika seandainya mereka memasuki lubang dhabb (sejenis biawak) niscaya kalian akan ikuti pula”. Kami (para sahabat) bertanya “Wahai Rasulullah, (mereka itu) Yahudi dan Nasrani?”. Rasulullah menjawab “Siapa lagi?” (HR. Bukhari-Muslim).
Merayakan tahun baru mereka adalah bentuk ikut-ikutan kita dengan mereka. Sementara rasul telah bersabda:
(Buletin al-Balagh edisi 7, Tahun IX, Safar 1435 H)
HAJI, BERJALAN MENUJU ALLAH
By : Rian Pratama AmdinIbadah haji disyariatkan oleh Allah swt. sejak zaman Nabi Ibrahim as. Pada masa itu, pondasi bangunan Ka’bah baru selesai dikerjakan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as., maka umat manusia dari seluruh dunia diseru buat mengunjunginya dan menunaikan ibadah haji di sekelilingnya. Menurut Ibnu Abbas ra. (Tafsir Ibnu Katsir, 1999), pada saat Nabi Ibrahim as. diperintah oleh Allah swt. untuk menyampaikan kepada umat manusia agar berhaji ke Ka’bah, Nabi Ibrahim as. bertanya kepada Allah swt.: “Bagaimana aku menyampaikan kepada seluruh umat manusia, sedangkan suaraku tidak mampu menjangkau mereka ?”. Allah swt. menjawab: “Berserulah dan Aku yang akan menyampaikan kepada mereka seluruhnya”. Seruan untuk berhaji akhirnya diketahui oleh seluruh umat manusia, hingga dengan berbondong-bondong mereka mendatangi Ka’bah buat menunaikannya, ada yang berjalan kaki dan ada yang berkendaraan.
Sejarah ini diharapkan mampu memberi wawasan kepada calon jemaah haji agar berhaji sesuai tuntunan Rasulullah saw. dan menghindari praktik-praktik kesyirikan yang kadang terjadi pada jemaah haji, seperti mengusap-usap dinding Ka’bah atau tiang-tiang Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan kain, atau memotong tali tenda-tenda di padang Arafah, kesemuanya dengan maksud mengambil berkah dari benda-benda tersebut.
Perjalanan haji selain untuk menjalankan kewajiban agama, juga dimaksudkan untuk tujuan lain, yaitu:
1. Mewujudkan sikap bertauhid kepada Allah swt.
Pelaksanaan ibadah haji dari awal hingga selesainya adalah ditujukan dalam rangka mengesakan Allah swt. Dimulai dengan niat ihram dan lantunan talbiyah, yaitu: Labbayka Allahumma Labbayka, Labbayka La Syarika Laka Labbayka, Inna al-Hamda wa al-Ni’mata Laka wa al-Mulka La Syarika Laka (Aku memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu karena tiada sekutu bagi-Mu, segala bentuk pujian, karunia kenikmatan dan kekuasaan sesungguhnya hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) hingga tawaf di sekeliling Ka’bah dan sai di antara bukit Safa dan Marwa. Suatu penegasan akan Maha Esa dan Kuasa Allah swt. sehingga pantas untuk disembah satu-satunya dan wajib dijauhkan dari segala bentuk perbuatan syirik.
Melempar jumrah dan tawaf wada’ adalah rangkaian terakhir dari pelaksanaan ibadah haji, kedua ibadah ini juga bagian dari mengesakan Allah swt. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Aisyah ra. disebutkan sabda Rasulullah saw. yang artinya:
“Sesungguhnya tawaf mengelilingi Ka’bah, sai antara bukit Safa dan Marwa, serta melempar jumrah hanyalah semata-mata untuk berzikir kepada Allah”.
Jutaan muslim yang datang dari berbagai negara di 5 benua berkumpul bersama buat menunaikan ibadah haji nan mulia ini. Pemandangan yang menakjubkan pada saat melihat seluruh jemaah haji dengan berbagai bahasa keseharian, warna kulit yang berbeda, mulai dari berwarna hitam, kuning, coklat, merah, putih hingga albino (bule), dan berbagai perbedaan lainnya. Semua berkumpul buat menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa. Keharmonisan gerak semakin menakjubkan pada saat seluruh jemaah bersama-sama melaksanakan salat berjamaah di Masjidil Haram, ruku’ bersama, sujud bersama dengan satu komando, imam Masjidil Haram. Ucapan takbir menyatukan seluruh gerak, hingga akhirnya berujung pada salam dan seluruh jemaah merasakan kebahagiaan yang sama. Menakjubkan dan luar biasa !
Perjalanan haji membutuhkan kesabaran dalam 3 hal. Pertama, kesabaran dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt. Rentetan ibadah telah menanti seorang jemaah haji sejak menginjakkan kaki di tanah suci Makkah atau Madinah, seperti salat berjamaah, tadarrus Alquran, zikir, doa dan lain sebagainya. Rangkaian ibadah-ibadah ini sekalipun bukan bagian dari pelaksanaan haji, namun selayaknya dijaga melihat kesempatan berkunjung ke tanah suci bisa tidak berulang kembali.
Rasulullah saw. menjanjikan balasan surga bagi setiap jemaah haji yang meraih predikat haji mabrur. Menurut Syaikh ‘Atiyah Salim (Syarah Bulugh al-Maram), haji mabrur adalah haji yang diterima, karena pelaksanaannya sempurna dengan memenuhi segala rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya serta bersih dari segala bentuk maksiat kepada Allah swt. Indikasinya dapat dilihat selepas ibadah haji ini ditunaikan, yaitu kondisi kesalehan seorang yang telah berhaji lebih baik dari sebelum ia menunaikannya.
Kesalehan seorang jemaah haji pada saat ia menunaikan haji dibutuhkan oleh orang-orang yang bersama dengannya di tanah suci, sedangkan kesalehannya selepas menunaikan haji dan kembali ke tanah air dibutuhkan oleh masyarakat yang lebih banyak. Tindakan-tindakan tercela di masyarakat seperti korupsi, berbohong dan tidak amanah semestinya dapat dikurangi dengan menjaga konsistensi haji mabrur.
Sumber : HAJI, BERJALAN MENUJU ALLAH | Wahdah Islamiyah http://wahdah.or.id/haji-berjalan-menuju-allah/#ixzz3E8uxIVA2


