- Back to Home »
- 004-1435 H »
- Jadi Muslim Jangan Mau Ikut-ikutan
Posted by : Rian Pratama Amdin
Rabu, 08 Oktober 2014
Allah Subhanahu
wa Ta'ala mengutus Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
untuk mengeluarkan manusia dari kesyirikan kepada tauhid. Sebagaimana telah
mengutus nabi dan rasul sebelum beliau. Dalam firman-Nya (yang artinya):
“Dan
sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu...", (QS. an-Nahl:
36).
Ayat ini
menunjukkan kepada kita, bahwa tujuan dari diutusnya setiap rasul oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala adalah untuk mengeluarkan manusia dari kesyirikan kepada tauhid,
dari penyembahan kepada makhluk kepada penyembahan hanya kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Dan inilah yang menyamakan atau merupakan titik temu antara
ajaran agama yang di bawa oleh setiap nabi, dari sejak nabi yang pertama di
utus oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala hingga nabi kita Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam. Namun kemudian ummat-ummat dari setiap nabi meninggalkan
atau menyimpang dari ajaran yang di bawah oleh nabi-nabi mereka. Mereka
mengganti tauhid yang diajarkan oleh nabi-nabi yang diutus dengan kesyirikan
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan mereka menjadikan nabi-nabi
tersebut sebagai tuhan-tuhan selain dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang orang-orang Yahudi dan
orang-orang Nasrani (yang artinya)
“Orang-orang
Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani
berkata: "Al Masih itu putera Allah"...“ (QS. at-Taubah: 30)
Ini adalah
merupakan pembeda antara umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
dengan kaum Nasrani ataupun Yahudi. Meskipun kita sama-sama meyakini Allah
sebagai tuhan kita, meyakini adanya hari berbangkit yang disana kita akan
bertanggung jawab kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun ada perbedaan
yang sangat mendasar antara kita dengan mereka, yaitu dari sisi bahwa mereka
memiliki sembahan yang lain selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Mereka beriman kepada Allah, tapi keimanan mereka kepada Allah bercampur dengan kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
Mereka beriman kepada Allah, tapi keimanan mereka kepada Allah bercampur dengan kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
“Dan
tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus
dalam kemusyrikan.” (QS. Yusuf: 107).
Mereka
meyakini adanya Allah. Mereka meyakini Allah sebagai pencipta satu-satunya.
Meyakini bahwa tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menciptakan, memelihara,
dan menguasai alam semesta dan segala isinya, tapi mereka memiliki sembahan
yang lain selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka keimanan mereka kepada
Allah adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan. Keimanan mereka kepada
Allah adalah keimanan yang batil, keimanan yang rusak karena keimanan tersebut
bukanlah keimanan yang murni mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
itulah perbedaan yang sangat mendasar antara kita kaum muslimin dengan
orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.
Karena itu jelaslah kebatilah orang yang mengatakan bahwasanya semua pengikut agama langit ini sama. Bahwasanya agama Islam, Yahudi dan Nasrani ini adalah sama. Ada diantara mereka yang berdalilkan atau berdalih dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya)
Karena itu jelaslah kebatilah orang yang mengatakan bahwasanya semua pengikut agama langit ini sama. Bahwasanya agama Islam, Yahudi dan Nasrani ini adalah sama. Ada diantara mereka yang berdalilkan atau berdalih dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya)
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang
Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari
kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka,
tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ”
(QS. al-Baqarah: 62)
Ayat ini
kadang dijadikan sebagai dalil oleh orang-orang yang ingin menyamakan antara
Islam dan Yahudi dan Nasrani karena dikatakan bahwasanya orang yang beriman,
orang Yahudi dan orang Nasrani, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir
dan beramal shaleh, maka mereka akan mendapatkan balasan yang baik di sisi
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pembaca yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala, ayat-ayat Al-Qur'an saling menjelaskan satu sama lainnya. Bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada Allah, bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada hari akhir. Ini yang menjadi pertanyaan. Apakah keimanan mereka kepada Allah sama dengan keimanan kita kepada Allah sehingga kita mengatakan Islam sama dengan Nasrani, sama dengan Yahudi? Ternyata tidak! Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam ayat yang lain (yang artinya),
Pembaca yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala, ayat-ayat Al-Qur'an saling menjelaskan satu sama lainnya. Bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada Allah, bagaimana bentuk keimanan yang benar kepada hari akhir. Ini yang menjadi pertanyaan. Apakah keimanan mereka kepada Allah sama dengan keimanan kita kepada Allah sehingga kita mengatakan Islam sama dengan Nasrani, sama dengan Yahudi? Ternyata tidak! Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam ayat yang lain (yang artinya),
“Maka jika
mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan
petunjuk (ke jalan yang benar)...” (QS. al-Baqarah: 137)
Apakah
keimanan mereka sama dengan keimanan kita kepada Allah? Jawabannya tidak!
Keimanan kita kepada Allah disebutkan dalam surah Al-Ikhlas “Katakanlah Allah
itu ahad (Tunggal), Allah tempat bergantung dan bersandar segala sesuatu, yang
tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu apapun yang sama
dengannya”
Keimanan mereka kepada Allah adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan. Sementara keimanan kita kepada Allah adalah keimanan dalam bentuk tauhid yang hanya menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai satu-satunya sembahan, sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap bentuk ibadah yang kita lakukan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut mereka sebagai orang-orang yang kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya)
Keimanan mereka kepada Allah adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan. Sementara keimanan kita kepada Allah adalah keimanan dalam bentuk tauhid yang hanya menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai satu-satunya sembahan, sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap bentuk ibadah yang kita lakukan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut mereka sebagai orang-orang yang kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya)
“Sesungguhnya
telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al
Masih putera Maryam....", (QS. al-Maidah: 72).
Dalam ayat
selanjutnya Allah mengatakan (yang artinya):
“Sesungguhnya
kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari
yang tiga...." (QS. al-Maidah: 73)
Mereka
mengimani Allah namun juga meyakini juga adanya tuhan selain Allah. Itu adalah
kesyirikan dan kekufuran kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka tidak
ada bedanya antara orang-orang kafir Quraisy dengan orang-orang Yahudi dan
orang-orang Nasrani. Karena mereka orang-orang yang musyrik kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala.
Islam, agama yang paling tinggi
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memperjuangkan Islam, untuk mendakwahkan Islam, untuk menegakkan Islam, sehingga Islam menjadi agama yang paling tinggi. Allah berfirman (yang artinya):
Islam, agama yang paling tinggi
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memperjuangkan Islam, untuk mendakwahkan Islam, untuk menegakkan Islam, sehingga Islam menjadi agama yang paling tinggi. Allah berfirman (yang artinya):
“Dialah yang
mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia
memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. ”
(QS. as-Shaff: 9)
Maka semua
agama yang ada, ketika nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
diutus adalah agama-agama yang batil. Adalah agama-agama yang telah menyimpang.
Dan Islam dibawa oleh nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk
mengalahkan semua agama-agama tersebut.
Oleh karena itu, setiap orang-orang beriman, yang telah menyatakan diri sebagai muslim berpegang teguh dengan agama mereka, hendaklah mempelajari Al-Qur'anul Karim, mempelajari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beramal dengannya untuk menampakkan perbedaan antara keimanan dan kekufuran. Kemudian berdakwah, berjuang menegakkan kebenaran, untuk menampakkan kebenaran hingga kemudian bisa mengalahkan kebatilan. Tauhid bisa mengalahkan kesyirikan, sehingga agama Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadi agama tertinggi.
Ujian Toleransi
Pada bulan ini, bulan Desember menurut penanggalan miladiyah. Beberapa hari kedepan ada hari raya orang Nasrani dan ada tahun baru orang Nasrani. Sebagai salah satu wujud kebencian kita terhadap kekufuran adalah sama sekali tidak ikut merayakan hari-hari raya mereka. Sebagian diantara kita ada yang memberikan selamat kepada mereka ketika mereka merayakan hari natal, ini merupakan kebatilan, ini merupakan kemunkaran karena sama saja kita mentolerir kesyirikan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hari Natal adalah hari yang mereka yakini sebagai kelahiran nabi Isa, yang mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Memberi ucapan selamat kepada mereka sama saja kita mengatakan “Selamat atas kelahiran tuhan anda, selamat atas kesyirikan anda”.
Andaikan ada orang yang minum minuman keras lantas kita ucapkan, “selamat mabuk”, kira-kira berdosa atau tidak? Ada orang selesai berzina, kita ucapkan “selamat ya anda sudah berzina”. Mengucapkan keselamatan kepada kemaksiatan adalah merupakan dosa yang besar. Apa lagi mengucapkan selamat dalam kesyirikan. Maka sama sekali tidak ada ucapan selamat kepada segala bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam bentuk apapun dan siapapun dia. Meskipun ia seorang atasan kita, seorang komandan kita. Kita mengatakan mohon maaf, ini sudah wilayah agama, “untukmu agamamu, untukku agamaku.”
Begitupun perayaan tahun baru yang biasanya kaum muslimin tumpah ruah ikut merayakannya. Tahun miladiyah bukan tahun kita, tahunnya kaum muslimin adalah tahun Hijriah. Sedangkan pergantian tahun Hijriah Rasulullah tidak menganjurkan kita untuk merayakannya dan sahabat Rasulullah pun tidak pernah merayakannya, apalagi merayakan tahun barunya orang kafir. Maka salah satu bentuk kebencian kita terhadap kekufuran adalah tidak ikut serta dalam segala ciri khas orang-orang di luar Islam. Sesungguhnya perayaan tahun baru miladiyah merupakan bagian dari agama Nasrani. Karena tahun tersebut dikaitkan dengan natalnya nabi yang kemudian mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah bersabda: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika seandainya mereka memasuki lubang dhabb (sejenis biawak) niscaya kalian akan ikuti pula”. Kami (para sahabat) bertanya “Wahai Rasulullah, (mereka itu) Yahudi dan Nasrani?”. Rasulullah menjawab “Siapa lagi?” (HR. Bukhari-Muslim).
Merayakan tahun baru mereka adalah bentuk ikut-ikutan kita dengan mereka. Sementara rasul telah bersabda:
Oleh karena itu, setiap orang-orang beriman, yang telah menyatakan diri sebagai muslim berpegang teguh dengan agama mereka, hendaklah mempelajari Al-Qur'anul Karim, mempelajari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beramal dengannya untuk menampakkan perbedaan antara keimanan dan kekufuran. Kemudian berdakwah, berjuang menegakkan kebenaran, untuk menampakkan kebenaran hingga kemudian bisa mengalahkan kebatilan. Tauhid bisa mengalahkan kesyirikan, sehingga agama Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadi agama tertinggi.
Ujian Toleransi
Pada bulan ini, bulan Desember menurut penanggalan miladiyah. Beberapa hari kedepan ada hari raya orang Nasrani dan ada tahun baru orang Nasrani. Sebagai salah satu wujud kebencian kita terhadap kekufuran adalah sama sekali tidak ikut merayakan hari-hari raya mereka. Sebagian diantara kita ada yang memberikan selamat kepada mereka ketika mereka merayakan hari natal, ini merupakan kebatilan, ini merupakan kemunkaran karena sama saja kita mentolerir kesyirikan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hari Natal adalah hari yang mereka yakini sebagai kelahiran nabi Isa, yang mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Memberi ucapan selamat kepada mereka sama saja kita mengatakan “Selamat atas kelahiran tuhan anda, selamat atas kesyirikan anda”.
Andaikan ada orang yang minum minuman keras lantas kita ucapkan, “selamat mabuk”, kira-kira berdosa atau tidak? Ada orang selesai berzina, kita ucapkan “selamat ya anda sudah berzina”. Mengucapkan keselamatan kepada kemaksiatan adalah merupakan dosa yang besar. Apa lagi mengucapkan selamat dalam kesyirikan. Maka sama sekali tidak ada ucapan selamat kepada segala bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam bentuk apapun dan siapapun dia. Meskipun ia seorang atasan kita, seorang komandan kita. Kita mengatakan mohon maaf, ini sudah wilayah agama, “untukmu agamamu, untukku agamaku.”
Begitupun perayaan tahun baru yang biasanya kaum muslimin tumpah ruah ikut merayakannya. Tahun miladiyah bukan tahun kita, tahunnya kaum muslimin adalah tahun Hijriah. Sedangkan pergantian tahun Hijriah Rasulullah tidak menganjurkan kita untuk merayakannya dan sahabat Rasulullah pun tidak pernah merayakannya, apalagi merayakan tahun barunya orang kafir. Maka salah satu bentuk kebencian kita terhadap kekufuran adalah tidak ikut serta dalam segala ciri khas orang-orang di luar Islam. Sesungguhnya perayaan tahun baru miladiyah merupakan bagian dari agama Nasrani. Karena tahun tersebut dikaitkan dengan natalnya nabi yang kemudian mereka yakini sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah bersabda: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika seandainya mereka memasuki lubang dhabb (sejenis biawak) niscaya kalian akan ikuti pula”. Kami (para sahabat) bertanya “Wahai Rasulullah, (mereka itu) Yahudi dan Nasrani?”. Rasulullah menjawab “Siapa lagi?” (HR. Bukhari-Muslim).
Merayakan tahun baru mereka adalah bentuk ikut-ikutan kita dengan mereka. Sementara rasul telah bersabda:
“Barangsiapa
bertasyabbuh (menyerupai) suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum
tersebut” (HR. Ahmad dan Abu Dawud.)
Mudah-mudahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga
jati diri kita sebagai seorang muslim untuk tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan
orang-orang diluar Islam yang merupakan ciri khas dari kekafiran mereka kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wallahu a’lam.[]
(Buletin al-Balagh edisi 7, Tahun IX, Safar 1435 H)
(Buletin al-Balagh edisi 7, Tahun IX, Safar 1435 H)
- See more
at:
http://www.albalaghmedia.com/2013/12/jadi-muslim-jangan-mau-ikut-ikutan.html#sthash.RIENHMdn.dpuf

Posting Komentar